|
Peningkatan Ekspor Sokong Pertumbuhan Ekonomi
Kamis, 16 Agustus 2007 | 03:55 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua 2007 mencapai 6,3 persen, hampir sama dengan prediksi pemerintah sebelumnya 6,2-6,4 persen. Secara kumulatif hingga semester pertama tahun ini pertumbuhan ekonomi sudah mencapai 6,13 persen. "Peningkatan ekspor memberi kontribusi terbesar bagi pertumbuhan ekonomi kali ini," kata Deputi Statistik Distribusi dan Neraca Nasional Slamet Sutomo dalam jumpa pers di Jakata kemarin.
Ekspor bertumbuh 3,82 persen secara triwulanan (dari triwulan pertama ke triwulan kedua 2007) atau 9,79 persen secara tahunan (dari triwulan kedua 2006 ke triwulan kedua 2007). Peningkatan ekspor itu ditunjang oleh komoditas nonmigas seperti nikel, logam dan tembaga yang naik harganya di pasar dunia. "Ekspor naik juga karena membaiknya perekonomian negara tujuan," paparnya.
Selain ekspor, pertumbuhan ekonomi juga disokong oleh peningkatan impor sebesar 7,2 persen, kenaikan investasi sebesar 6,9 persen, dan konsumsi rumah tangga sebesar 4,7 persen. Namun, konsumsi pemerintah, terutama penyerapan anggaran belum banyak memberikan kontribusi. Konsumsi pemerintah hanya naik 3,8 persen.
Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2007, pemerintah menargetkan ekonomi akan bertumbuh sebesar 6,3 persen. Hingga triwulan pertama tahun ini pertumbuhan baru mencapai 6 persen.
Menteri Koordinator Perekonomian Boediono mengatakan, peluang pemerintah mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3 persen hingga akhir tahun semakin terbuka lebar. "Ini pertanda baik karena sebelumnya banyak pihak yang pesimistis," katanya di Jakarta kemarin.
Namun, Boediono mengakui belanja pemerintah memang belum optimal mendorong pertumbuhan ekonomi. "Kami berharap semester dua bisa digenjot," kata dia.
Direktur Jenderal Perbendaharaan Negara Herry Purnomo mengungkapkan, sampai dengan 31 Juli 2007, penyerapan belanja modal pemerintah masih rendah, baru mencapai 22,74 persen. Dari pagu anggaran belanja modal Rp 73,1 triliun baru terserap Rp 16,6 triliun. "Saya tidak tahu kenapa penyerapannya rendah. Kemungkian masalahnya masih klasik," katanya di tempat terpisah kemarin.
Ekonom dari ECONIT Advisory Group Hendri Saparini ragu ada kenaikan pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua. Bahkan, kata dia, perhitungan produk domestik bruto (PDB)--acuan perhitungan pertumbuhan ekonomi-- oleh BPS patut dipertanyakan lebih jauh.
Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi belum menyentuh sektor riil, terutama pertanian dan manufaktur. Pertumbuhan ekonomi seharusnya mengikutsertakan sektor-sektor yang terkait dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. "Sektor pertanian dan manufaktur harusnya bertumbuh besar, karena menyerap paling banyak tenaga kerja," katanya.
Dalam rilis BPS, sektor pertanian hanya bertumbuh 3,6 persen (dari triwulan pertama ke triwulan kedua 2007) atau 5,5 persen secara tahunan. Industri pengolahan dan manufaktur hanya bertumbuh 1,8 persen secara triwulanan dan 5,5 persen secara tahunan . "Harusnya dua sektor itu tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi," kata Hendri.
Rafly Wibowo | Agus Supriyanto
INDEKS BERITA LAINNYA :
|