|
Pergerakan Rupiah Terikat Bergantung Penjualan Obligasi
Senin, 20 Agustus 2007 | 07:01 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pergerakan rupiah diperkirakan masih sekitar Rp 9.400 – Rp 9.600 beberapa hari kedepan. Pergerakan ini sangat bergantung pada penjualan Obligasi dan Surat Utang Negara (SUN) yang terus berlangsung, sehingga diperlukan intervensi Bank Indonesia untuk menyelamatkan nilai Rupiah.
Menurut Analis Pasar Uang, Fahrial Anwar, pergerakan Rupiah yang tergantung pada penjualan Obligasi dan SUN ini, sangat menekan nilai Rupiah itu sendiri. Kondisi ini dapat terlihat dengan terus berlangsungnya aksi jual Dolar di pasar portofolio.
Fahrial mengatakan, tindakan ini diambil pelaku pasar guna mengikuti tren kebijakan Bank Federal Amerika Serikat (Bank Sentral Amerika) yang menarik dolar dari pasaran. Tindakan ini diambil untuk menutupi kebutuhan likuiditas yang sangat tinggi akibat penurunan kredit rumah di Amerika Serikat. ”Saat ini orang butuh dolar untuk menarik utang dari penjaminan kredit rumah di Amerika Serikat, jadi nilai dolar semakin menguat di pasar,” ujar Fahrial tadi malam (19/8).
Fahrial menambahkan, saat ini tengah berlangsung fenomena krisis likuiditas Dolar. Yaitu suatu kondisi, dimana pasar uang meminjam kepada bank, agar bank dapat memberikan Dolar kepada kreditur yang membutuhkan. Selain itu, Fahrial juga mengatakan, dengan adanya likuiditas ini , Bank Sentral Amerika terpaksa menjual aset yang ada di luar negeri.
Untuk meredam kondisi seperti ini, Fahrial menyarankan, sebaiknya ada intervensi dari Bank Indonesia terhadap aksi jual Dolar dan Obligasi. ”Potensi akan naik bisa terus terjadi, tergantung BI, bisa atau tidak me-rem keadaan seperti ini,” ujarnya
Jika BI tidak melakukan intervensi, Fahrial pesimis, nilai rupiah akan menguat. Bahkan, kemungkinan nilai Rupiah terpuruk diatas Rp 9.600 bisa saja terjadi. ”Investor banyak yang menarik Dolar. Saat ini yang diperlukan adalah uang Dolar, makanya, nilainya menjadi tinggi,” ujar Fahrial.
Cheta Nilawaty
INDEKS BERITA LAINNYA :
|