|
Pertamina Lanjutkan Operasi Pasar Minyak Tanah
Rabu, 22 Agustus 2007 | 03:04 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Pertamina menjanjikan terus menggelar operasi pasar minyak tanah untuk mengatasi kelangkaan di beberapa wilayah Jakarta, Bogor, Tanggerang dan Bekasi (Jabotabek). Kelangkaan bahan bakar minyak ini terjadi akibat masa transisi program konversi minyak tanah ke elpiji.
Menurut Manajer Umum Unit Pemasaran BBM Retail Region III Pertamina Achmad Faisal, operasi pasar minyak tanah hanya akan digelar di daerah yang belum menjalankan program konversi dengan harga penjualan yang disubsidi Rp 2.300 per liter. "Untuk masyarakat yang tinggal di daerah yang telah menjalankan program konversi, minyak tanah dijual dengan harga keekonomian Rp 6.200 per liter," katanya di Jakarta, Selasa (21/8)
Sejak awal Agustus hingga 20 Agustus lalu, perusahaan minyak milik negara ini sudah menjual 165 kilo liter dalam operasi pasar.
Konversi minyak tanah ke elpiji merupakan program pemerintah pusat mengurangi beban subsidi BBM yang terus membengkak. Dalam program ini masyarakat mendapatkan kompor gas dan elpiji tiga kilogram gratis. Program konversi yang tahap awal dilakukan di Jabotabek ini tak mulus. Yang ada justru terjadi kelangkaan minyak tanah. Masyarakat pun masih enggan menggunakan elpiji.
Kemarin, kelangkaan minyak tanah di Jakarta semakin marak. Warga Kampung Rawa Simprug, kelurahan Grogol Selatan, Jakarta Selatan bahkan rela mengantri di tengah guyuran hujan. Begitu pula di Kota Tanggerang, ratusan warga mengantri minyak tanah di pangkalan minyak tanah di daerah Gondrong, Cipondoh.
Menurut Achmad, kelangkaan terjadi karena masyarakat yang telah mengikuti program konversi memanfaatkan minyak tanah bersubsidi dari daerah yang belum menjalankan program konversi. "Kami tak menarik minyak tanah di daerah yang belum menjalankan konversi. Apabila masyarakat konsisten, tak akan timbul masalah. "
Tentang kelangkaan minyak tanah non-subsidi, kata dia, distribusinya terganjal agen penjual. "Sedikit sekali yang bersedia menjual dan menjadi agen, " ujarnya.
Manajer Gas Domestik Pertamina Agus Hermawan menambahkan agar tak menimbulkan subsidi ganda yang harus ditanggung pemerintah, pertamina secara bertahap mengurangi alokasi minyak tanah bersubsidi sebanyak 70 persen di daerah yang telah menjalankan program konversi. "Sisa 30 persen untuk kebutuhan pedagang kecil," kata Agus. Saat ini Pertamina mempersiapkan mengeluarkan kompor gas khusus pedagang kecil dengan tekanan yang besar.
Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta tak bisa berbuat banyak mengatasi kelangkaan minyak tanah. "Bukan kami yang punya minyak tanah," kata Kepala Bagian Industri dan Perdagangan Jakarta Ali Kasim di Jakarta kemarin.
Menurut dia, kelangkaan terjadi karena Pertamina tidak mempertimbangkan dampaknya saat melakukan konversi minyak tanah ke elpiji. Berdasarkan hasil pemantauan, masyarakat yang telah diberi kompor gas tidak akan mengisi tabung gas setelah isinya habis. "Warga kembali beralih ke minyak tanah," katanya.
Yuliawati | mustafa silalahi | gunanto | ayu cipta
INDEKS BERITA LAINNYA :
|