Rupiah Masih Akan Naik-Turun

Rabu, 22 Agustus 2007 | 11:41 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Nilai tukar rupiah pada hari ini diperkirakan masih akan berfluktuasi pada kisaran Rp 9.400 per dolar.

Ekonom Citigroup Anton Gunawan mengatakan, ini imbas dari penjualan aset berupa surat utang negara dan Sertifikat Bank Indonesia oleh asing.

Para investor asing, menurut dia, masih meragukan efektifitas serangkaian langkah bank sentral Amerika Serikat menaikkan likuiditas di pasar uang negara itu.

"Akibatnya mereka jual aset likuid mereka untuk menutupi kekurangan likuiditas di sana," kata dia kepada Tempo.

Menurut Anton, para investor pasar keuangan ini masih berharap The Fed, julukan bank sentral AS, memotong tingkat suku bunganya lebih lanjut. "Sekitar 0,25--50 persen," kata dia.

Ini diharapkan bisa mengurangi kekurangan likuiditas yang dialami perusahaan-perusahaan keuangan di sana, termasuk bank, akibat terseret krisi seret perumahan (subprime mortgage).

Jika pemotongan suku bunga dilakukan, lanjut dia, maka ini akan mendorong penguatan nilai tukar rupiah.

Ia berharap Bank Indonesia terus menjaga rupiah agar tidak menembus angka Rp 9500. "Cadangan devisa kita saat ini masih sekitar US$ 52 miliar. Jadi masih sangat cukup kuat untuk menstabilkan rupiah," kata dia.

Anton juga melihat adanya tekanan Yen terhadap rupiah akhir-akhir ini. Carry trade yang berasal dari negara itu mulai berputar kembali. "Mereka mulai menjual portofolio dalam rupiah dan membelikan Yen," kata dia.

Efeknya terhaedap saham, lanjut dia, masih akan ditunggu pada perdagangan sesi pertama pagi ini. "Indikasi umumnya memang terjadi penguatan," kata dia.

BUDIRIZA

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: