Pemerintah Pantau Kenaikan Kebutuhan Pokok
Kamis, 23 Agustus 2007 | 03:40 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah melakukan pemantauan kenaikan harga beberapa kebutuhan pokok menyusul kenaikan harga menjelang bulan puasa dan Lebaran. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, kenaikan harga kebutuhan pokok selama puasa hingga Lebaran tidak berbeda dengan tahun lalu.
"Karena cuaca dan lebaran biasanya permintaan naik 10-20 persen dan harga naik 5-10 persen (dari harga normal)," ujarnya, Rabu (22/8).
Mari menegaskan, kenaikan harga bukan karena menipisnya stok. "Dari ketersediaan barang seperti beras, minyak goreng, daging, telur cukup. Minyak goreng tidak ada masalah suplai. Yang penting barang cukup yakni produksi dan distribusinya lancar," katanya.
Dari Tangerang, Banten, harga kebutuhan pokok mulai merangkak naik. Telur ayam kini menjadi Rp 10.000-12.000 per kilogram dan daging ayam naik Rp 4.000 menjadi Rp 18.000 per kilogram. Sedangkan minyak goreng curah dijual Rp 9.000 per kilogram dari harga sebelumnya Rp 8.000.
Kenaikan harga juga terjadi pada gula pasir per kilogram mencapai Rp 7.000 padahal sebelumnya hanya Rp 6700. Sementara itu untuk terigu kualitas baik naik dari Rp
6.000 menjadi Rp 7.500. Kemudian cabe merah keriting dari Rp 10.000 naik menjadi Rp 15.000.
Pemerintah juga menilai kenaikan harga kebutuhan pokok masih di tingkat yang wajar. Pasalnya, dari evaluasi Departemen Perdagangan, rata-rata harga baru naik sekitar dua persen dibanding harga normal. "Ini bukan gejolak harga. Karena berdasar definisi gejolak harga adalah kenaikan harga sebesar 25 persen selama tiga bulan berturut-turut," kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Ardiansyah Parman.
Kenaikan harga ini juga dinilai lumrah karena sifatnya musiman. "Tidak apa-apa lah harga naik sedikit, kan orang juga mau Lebaran, yang penting suplai cukup," tukasnya.
Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia (Nampa) Haniwar Syarif menilai harga daging sapi belakangan ini masih normal. "Daging harganya sekarang belum naik. Karena biasanya naik pada beberapa hari menjelang lebaran," tuturnya kepada Tempo.
Pada dua hari sebelum Lebaran biasanya, kata Haniwar, harga daging mencapai Rp 60-70 ribu per kilogram. Atau naik dari harga normal yang per kilogramnya Rp 40 ribuan. Kenaikan harga daging ini pun, menurut dia, bukan karena stok di dalam negeri yang kurang. "Tapi karena ada sentimen pasar," katanya.
Sedangkan Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Ratna Sari Loppies mengatakan, kenaikan harga tepung terigu karena adanya kenaikan gandum dunia dan situasional menjelang puasa. Saat ini ukuran satu sak terigu sebesar Rp 100 ribu (ukuran 25 kilogram). Dengan ukuran yang sama, pada bulan April senesar Rp 96 ribu per sak dan pada akhir tahun sebesar Rp 85 ribu per sak.
Harga gandum di pasar internasional naik mencapai 50 persen. Penyebabnya semakin tinggi permintaan pasar dan produksi gandum di Australia yang turun drastis akibat musim kering. Kenaikan gandum memicu kenaikan harga tepung terigu nasional.
RR ARIYANI | YULIAWATI | AYU CIPTA





