Miliaran Rupiah Melayang di Merak-Bakauheni

Senin, 03 September 2007 | 03:22 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kerugian akibat kemacetan di lintasan penyeberangan Merak-Bakauheni diperkirakan mencapai Rp 26 miliar per hari.
Ketua Umum Organisasi Pengusaha Angkutan Darat Murphi Hutagalung mengatakan kerugian itu muncul dari hilangnya potensi pendapatan, penambahan waktu perjalanan, dan membengkaknya biaya operasional.

"Ini belum termasuk barang-barang angkutan yang membusuk," kata Murphy ketika dihubungi Tempo kemarin.

Jumlah kerugian itu dihitung berdasarkan asumsi kerugian setiap satu unit truk sebesar Rp 10 juta per hari. Sedangkan angkutan yang melintas setiap hari ditaksir 2.600 unit.

Kerugian truk sekitar Rp 10 juta per hari itu lantaran target angkutan yang tidak tercapai. "Seharusnya dalam seminggu truk bisa dua kali angkut, ini hanya sekali," katanya.

Selain itu, biaya operasional membengkak lantaran waktu perjalanan yang semakin panjang. Sedangkan kerugian berdasarkan jenis barang yang diangkut, menurut Murphy, sulit dihitung karena barang setiap angkutan berbeda-beda.

Sejak sepekan lalu terjadi kemacetan di lintasan Merak-Bakauheni. Akibatnya, antrean truk mencapai sekitar 12 kilometer. Kemacetan terjadi lantaran sebagian kapal di Pelabuhan Merak sedang diperbaiki. Dari 24 kapal yang ada, hanya 13 yang beroperasi. Sementara itu, jumlah truk pengangkut barang yang akan melintas melonjak hingga 40 persen dibanding waktu biasanya.

Dia meminta pemerintah segera mengantisipasi potensi kemacetan di lintasan Merak-Bakauheni dan lintasan lain yang rawan kemacetan. "Ini sering berulang, hampir setiap tahun terjadi, apalagi menjelang puasa dan Lebaran. Seharusnya sudah bisa dipelajari," kata Murphy.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Departemen Perhubungan Iskandar Abubakar menjamin akan menjaga keseimbangan kapasitas layanan penyeberangan dan arus angkutan di lintas Merak-Bakauheni.

Iskandar memperhitungkan penyeberangan setiap hari sebetulnya bisa dilayani oleh 16 kapal. "Dalam satu kesempatan, dua kapal melintas dan dua kapal (melakukan) persiapan di dermaga," katanya.

Pihaknya sudah membuka izin baru untuk menambah kapal. Namun, hingga saat ini belum ada respons dari pemilik kapal. Sedangkan untuk mengantisipasi padatnya arus lalu lintas saat Lebaran nanti, PT Pelayaran Nasional Indonesia sudah berkomitmen meminjamkan dua unit kapalnya.

Sebagai antisipasi jangka panjang, Iskandar melanjutkan, pemerintah berencana membangun pelabuhan penyeberangan Ketapang-Margagiri sepanjang 23 kilometer. Itu sebagai alternatif penyeberangan Merak-Bakauheni. "Tahun depan sudah ditenderkan," kata Iskandar. Investasi untuk proyek ini diperkirakan mencapai Rp 236,2 miliar. Dana itu untuk membangun terminal penumpang, lahan parkir kendaraan, kantor operasional, prasarana navigasi, serta fasilitas lainnya.

Untuk mengatasi kepadatan itu, Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Feri (Gapasdaf) mengusulkan penambahan dermaga, terutama di lintas yang padat. Ketua Bidang Usaha dan Penarifan Gapasdaf Bambang Haryo mengatakan usul itu lebih tepat ketimbang menambah kapal.

Jumlah kapal, kata dia, sebenarnya masih mencukupi. Selain itu, kebutuhan dana untuk membangun dermaga jauh lebih murah dibanding pengadaan kapal. Untuk membangun dermaga, hanya dibutuhkan biaya sekitar Rp 10 miliar. Sedangkan untuk menambah kapal dibutuhkan biaya Rp 30-40 miliar.

l HARUN MAHBUB

TOPIK






Komentar Anda

Kirim