Berencana Investasi, Putin Kunjungi Indonesia
Selasa, 04 September 2007 | 09:08 WIB
TEMPO Interaktif, Moskow:Pemimpin Rusia Vladimir Putin akan berkunjung ke Indonesia Kamis mendatang. Kunjungan pertamanya ke Indonesia ini diperkirakan akan menghasilkan kesepakatan investasi bernilai $10 miliar.
Seperti dikutip dari situs The Moscow Time, pengusaha Rusia berniat menanamkan uangnya di di industri minyak dan alumunium di Indonesia.
"Putin akan bertemu dengan Presiden Yudhoyono dan kalangan pengusaha Indonesia dalam kunjungan selama satu hari," kata Juru Bicara Dmitry Peskov seperti dikutip dari The Moscow Time Senin malam. Lawatan Putin merupakan lanjutan kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Rusia pada Desember lalu.
Di sektor pertambangan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro pernah mengatakan PT Aneka Tambang, berencana menandatangani kerja sama dengan United Company RusAl pada Kamis mendatang. Kerja sama itu untuk membangun smelter alumina senilai $ 4 miliar di Tayan, Kalimantan Timur.
Juru Bicara RusAl Olga Sanarova membenarkan kerja sama tersebut meski tak memerinci biaya yang dikeluarkan untuk kerja sama tersebut. "Kami tertarik dengan Indonesia karena memiliki banyak sumber bauksit," kata Sanarova. RusAl sendiri sedang berencana membangun mesin pengolahan bauksit.
Investasi awal untuk pabrik tersebut, kata Purnomo seperti dikutip Bloomberg, senilai $ 2 miliar. Angka itu dinilai mencukupi pembangunan smelter dan pabrik yang akan menyuplai energi ke smelter tersebut.
Di sektor perminyakan, LUKoil kemungkinan akan membuat kerja sama dengan Pertamina. Namun tidak dijelaskan lebih lanjut berapa nilai kerja sama itu. Presiden LUKoil Vagit Alekprov akan menemani Putin dalam kunjungan ke Indonesia.
Tak hanya itu, Rusia juga melirik investasi di bidang telekomunikasi Indonesia. Altimo, anak usaha Alfa Group, telah mempelajari sektor tersebut dan berencana berinvestasi.
Dari Indonesia Putin akan terbang ke Australia untuk menghadiri Konferensi Asian-Pacific Economic Cooperation. Ia juga berencana melakukan pertemuan bilateral termasuk dengan Presiden Amerika Serikat George W. Bush.
The Moscow Time / Desy Pakpahan





