Pemimpin Tak Konsisten, Country Branding Indonesia Lemah

Rabu, 05 September 2007 | 07:45 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Penciptaan Country Branding (CB) atau citra positif mengenai suatu negara di mata dunia sangat menentukan kesuksesan dalam kompetisi global. Sayangnya, Indonesia dinilai gagal menciptakan CB karena kurangnya konsistensi para pemimpin.

?Citra mengenai Indonesia cenderung negatif dan sepotong-sepotong,? kata Teddy Kharsadi, National Chair International Public Relations Association (IPRA) di sela-sela konferensi regional IPRA Asia Pacific 5-6 September di Nusa Dua, Bali. ?Para pemimpinnya sering berbantah-bantah mengenai suatu masalah,? tegasnya, Rabu (5/9).

Inkonsistensi juga terlihat antara pernyataan dan perilaku para pemimpin misalnya dalam hal pemberantasan korupsi, pembalakan hutan, pemberantasan terorisme dan masalah-masalah yang menjadi perhatian dunia lainnya. Belum lagi, kata Teddy, antara pemimpin formal dan informal sering mengalami miskomunikasi sehingga terjadi silang pendapat yang sangat tajam. Dalam situasi itu, upaya kalangan PR untuk menciptakan CB menjadi kurang berarti.

Hal itu diperburuk oleh kurangnya pemahaman pemerintah mengenai perlunya menciptakan CB dengan menonjolkan segi-segi positif dalam perkembangan bangsa. ?Mestinya, kalau pun ada masalah yang harus lebih banyak diekspose adalah upaya untuk mengatasinya tanpa menutupi masalah itu,? tegasnya.

Presiden IPRA 2007 Phillip Sheppard mengakui, sampai saat ini CB Indonesia memang masih lemah di mata dunia. ?Bayangan saya hanyalah Indonesia adalah negeri yang sangat beragam, sangat luas, memiliki 3 zona waktu dan mengalami masalah deforestasi serta pelestarian orang hutan,? kata pria asal Belgia itu. Citra itu terbentuk oleh pemberitaan di media-massa internasional yang diaksesnya.

Namun, menurutnya, bukan hal yang mudah untuk menciptakan CB dibanding branding mengenai suatu produk. Sebab, masalahnya jauh lebih rumit dan mengandung banyak kontradiksi. Dibutuhkan kepemimpinan yang kuat, konsistensi serta integritas dalam jangka panjang. Semua pihak, menurutnya, harus berperan serta dalam membangun CB dan bukan hanya kalangan pemerintah belaka.

Sementara itu Millicent Denker , Board Member IPRA Malaysia, menyebut CB Malaysia yang sangat kuat saat ini tak lepas dari keberhasilan Mahattir Mohammad saat memimpin negara itu. Terutama karena keberhasilan menciptakan stabilitas, kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi. ?Pemimpin yang ada saat ini tinggal berusaha mempertahankannya,? ujarnya.

CB itu pula yang membuat branding Malaysia untuk mempromosikan branding pariwisata ?Truly Asia? lebih mudah disampaikan. Sebab, kata Denker, masyarakat dunia sudah menaruh kepercayaan sebelumnya mengenai kondisi di negara itu. Rofiqi Hasan






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: