Bukopin Kaji Terbitkan Saham Baru
Selasa, 11 September 2007 | 03:39 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Bank Bukopin Tbk. sedang mengkaji pelaksanaan penambahan modal dengan mekanisme penerbitan saham baru (rights issue).
Langkah aksi korporasi ini, menurut Direktur Utama Bukopin Glen Glenardi , untuk meningkatkan modal perseroan seiring adanya wacana perubahan besaran rasio kecukupan modal (CAR) setelah Basel II dari minimal 8 persen menjadi 12 persen. "Untuk itu (meningkatkan modal), kami kan butuh uang," katanya kepada Tempo akhir pekan lalu.
Namun, saat ini Glen belum dapat memastikan waktu dan besaran rencana penerbitan saham baru tersebut. "Kalau bisa tahun ini mungkin lebih baik. Tapi itu baru dipelajari dan merupakan salah satu opsi saja," ujarnya.
Sekretaris Perusahaan Bukopin Mulyana menambahkan persiapan untuk meningkatkan modal selalu ada. "Karena bank selalu membutuhkan modal seiring dengan peningkatan kebutuhan usaha," katanya.
Mulyana menyatakan bahwa per 30 Juni 07 ekuitas Bukopin telah mencapai Rp. 1,749 triliun. "Akan tetapi waktunya (untuk meningkatkan modal) akan mengikuti jadwal," tutur dia.
Bank Bukopin membukukan laba bersih Rp 201 miliar pada semester pertama tahun ini. Jumlah tersebut meningkat jika dibanding pada periode yang sama tahun lalu, yaitu Rp 153 miliar.
Menurut Glen peningkatan laba bersih itu dipicu oleh pendapatan bunga bersih yang naik menjadi Rp 623 miliar. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, Bank Bukopin membukukan laba bersih Rp 599 miliar. "Pendapatan bunga bersih terutama didorong oleh naiknya kredit kepada pihak ketiga, yang sebagian besar berasal dari sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) serta koperasi," ujarnya.
Akibatnya, portofolio kredit terdongkrak dibanding tahun sebelumnya, dari Rp 14,78 triliun menjadi Rp 18,71 triliun. Pendapatan operasional juga naik dari Rp 59 miliar menjadi Rp 122 miliar.
Dibandingkan dengan tahun lalu, biaya operasional membengkak 25 persen menjadi Rp 442 miliar dari semula Rp 355 miliar. Rasio kecukupan modal (CAR) pada semester pertama tahun ini juga naik 15,3 persen dibanding pada tahun lalu sebesar 12,7 persen.
Sedangkan rasio kredit yang disalurkan terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio) Bank Bukopin, menurut Glen, tetap di atas 60 persen. "Kami menjaga kestabilan operasional dengan berkonsentrasi pada bisnis yang sudah ditekuni," katanya.
Rasio kredit macet (non-performing loan) Bank Bukopin juga terbilang rendah, yaitu 3,99 persen. Angka ini masih di bawah batas maksimal yang ditetapkan Bank Indonesia, yakni 5 persen.
Hingga semester pertama tahun ini, aset Bank Bukopin naik 46,69 persen, dari Rp 23,83 triliun pada tahun sebelumnya menjadi Rp 34,95 triliun. Naiknya aset disebabkan oleh kenaikan dana pihak ketiga sebesar 53 persen dibanding pada tahun lalu menjadi Rp 29,60 triliun.
WAHYUDIN FAHMI





