close

Anggota OPEC Bersilang Pendapat

Selasa, 11 September 2007 | 08:14 WIB

TEMPO Interaktif, VIENNA:
Arab Saudi dan Gulf Arab kembali mempertimbangkan produksi minyak negara-negara anggota OPEC ketika negara-negara konsumen dikhawatirkan pengaruh ekonomi harga minyak US$ 76 per barel dan stok yang berkurang dengan cepat.

Salah satu sumber OPEC mengemukakan hal ini dalam sebuah pertemuan informal dengan para menteri perminyakan Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab dan Qatar di Vienna dan setelah Sekretaris bidang energi Amerika Serikat Sam Bodman mengatakan kepada reporter di Florida bahwa pihaknya telah mendorong OPEC untuk meningkatkan produksi.

12 anggota OPEC hari ini bertemu untuk menetapkan pasokan minyak untuk kebutuhan musim dingin. Peningkatan sebesar 500 ribu barel per hari diperkirakan akan menenangkan negara konsumen tanpa membanjiri pasar dengan minyak dan menyebabkan harga jatuh. Namun, sejumlah negara anggota kemungkinan menentang rencana yang dinilai sebagai kebijaksanaan tanpa kompromi tersebut.

"Mereka kelihatannya menghendaki sedikit peningkatan produksi," kata sumber Gulf Arab. "Tapi jika ada perlawanan keras, kemungkinan mereka membatalkan ide itu."

Sementara para menteri yang hadir di OPEC menolak berkomentar. Libya dengan cepat menyatakan oposisi.
"Saya pikir peningkatan produksi tidak perlu," kata Shokri Ghanem, Kepala Delegasi Libya untuk OPEC. "Menurut kami, minyak yang beredar di pasar sudah cukup," dia menambahkan.

Negara-negara industri yang menjadi konsumen memperkirakan bahwa pasokan minyak mentah mereka bakal merosot dalam jangka waktu lima tahun sejak Januari kecuali OPEC menambah kuota produksi.

Harga minyak mentah di Amerika Serikat berkisar US$76 per barel, rekor harga tertinggi pada 1 Agustus lalu yaitu US$78,77 per barel.

Para menteri minyak dari Iran, Irak, Kuwait, Lybia, Nigeria, dan Venezuela mengatakan bahwa kedua belas negara dalam OPEC merasa sedikit tertekan untuk meningkatkan produksi dari kuota 25,8 juta barel per hari.

"Minyak yang beredar di pasar sudah cukup," kata Gholam Hossein Nozari, perwakilan kementerian minyak Iran dan bekas direktur perusahaan negara National Iranian Oil Company. Namun terdapat beberapa tanda bahwa negara tersebut akan sedikit mendorong produksi untuk menenangkan pasar minyak yang tengah gelisah.

AP | REUTERS | Nieke Indrietta

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Topik :

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan