Industri Galangan Kapal Mulai Menggeliat

Selasa, 25 September 2007 | 20:03 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Investasi industri galangan kapal Tanah Air mulia banjir pesanan. Empat investor dalam negeri dan empat investor asing siap membangun galangan kapal di empat wilayah Nusantara. "Tiga investor asing berasal dari Korea dan satu dari Hong Kong," kata Direktur Jenderal Industri Alat Transportasi dan Telematika, Budi Darmadi, Selasa (25/9). Investor dalam negeri diantaranya PT Pal dan PT Daya Radar Utama.

Pemerintah menitikberatkan pembangunan galangan kapal di empat kluster yakni Karimun, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Selain daerah ini, Dubai Docks World memproses pembangunan galangan kapal senilai US$ 500 juta di Batam. Kapasitas Dubai Docks sekitar 50 ribu bobot mati (death weight ton/DWT).

Investasi tahap awal yang dibutuhkan untuk membangun galangan kapal sekitar US$ 20 juta untuk kapasitas 30 ribu DWT. Pemerintah akan memberikan insentif pajak penghasilan (PPh) untuk pembangunan galangan kapal diatas kapasitas 50 ribu DWT.

Budi mengatakan, insentif PPH lewat perangkat Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal Bidang-bidang dan Daerah Tertentu. Potongan PPh yang diberikan sebesar 30 persen dari nilai investasi selama masa enam tahun.

Selain itu, menurut Direktur Industri Maritim dan Jasa Keteknikan, Panggah Susanto, pemerintah menerapkan bea masuk nol persen untuk bahan baku plat di atas 25 mili meter. "Pembebasan tarif untuk produk plat yang belum diproduksi," kata Panggah.

Pemerintah saat ini belum menetapkan penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Namun, pemerintah mengharapkan industri galangan kapal menggunakan komponen seperti rangka, blok, badan kapal (body) atau interior, atau telekomunikasi buatan dalam negeri. "Mesin masih harus didatangkan dari Amerika dan Jerman," ujar Budi.

Pertumbuhan industri galangan kapal untuk masa lima tahun ke depan diperkirakan tumbuh rata-rata 10-20 persen per tahun untuk kapasitas 40 ribu-50 ribu DWT.

Industri galangan kapal semakin pesat karena permintaan yang meningkat hingga 2016 di Asia Pasifik. "Ini semacam siklus 25 tahunan, sudah banyak kapal tua yang berusia 25 tahun yang harus diganti," ujar Panggah.

Kebutuhan kapal nasional untuk tujuh jenis kapal selama lima tahun ke depan sekitar 185-290 unit. Selain itu, Pertamina rencana mengganti 10 kapal tanker, diantaranya 8 kapal akan dibuat dalam negeri.

Menurut Panggah, saat ini industri pembuatan kapal baru masih kalah bersaing dengan industri reparasi kapal. Kapasitas industri kapal baru sebanyak 400 ribu unit sementara industri kapal yang direparasi sebanyak enam juta unit. "Siklus reparasi lebih cepat dengan adanya transportasi lebih ramai," ujar Panggah.

YULIAWATI






Komentar Anda

Kirim