Pemerintah Diminta Hentikan Lobi ke Komisi Eropa
Rabu, 26 September 2007 | 07:03 WIB
TEMPO Interaktif, Solo:Pemerintah sebaiknya menghentikan saja upaya untuk melobi Komisi Eropa terkait dengan pencabutan larangan terbang maskapai Indonesia ke negara-negara Uni Eropa.
Anggota Komisi Perhubungan DPR, Sumaryoto menilai lobi yang sudah dua kali dilakukan dan selalu gagal itu memang tidak akan pernah menuai hasil. "Sebab larangan itu tidak hanya sekadar soal standar keselamatan penerbangan, tetapi ada kepentingan bisnis di balik larangan itu," katanya dalam perbincangan dengan wartawan di Solo, Selasa (25/9) malam.
Kepentingan bisnis yang dimaksud Sumaryoto adalah kepentingan negara Uni Eropa agar maskapai Indonesia juga menggunakan pesawat asal Eropa. Karena selama ini maskapai di Indonesia seluruhnya menggunakan pesawat buatan Amerika Serikat.
Menurut politisi PDI Perjuangan ini, karena kepentingan bisnis itu, apapun penjelasan dari Indonesia tidak akan ada manfaatnya. "Larangan terbang itu kan akan dievaluasi Oktober mendatang. "Daripada menghabiskan biaya lobi yang tidak kecil dan tidak ada hasil, tunggu saja sampai Oktober," ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal mengakui pemerintah kembali gagal meyakinkan Komisi Eropa agar mencabut larangan terbang semua maskapai Indonesia ke Uni Eropa. Dalam sebuah pertemuan dengan delegasi Indonesia yang dilakukan di sela-sela sidang Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization/ICAO) di Montreal, Kanada, pekan lalu Komisi Eropa tetap berkeras pada keputusannya.
Akhir Agustus lalu, delegasi Indonesia, yang dipimpin oleh Ketua Tim Nasional Evaluasi Keselamatan dan Keamanan Transportasi Chappy Hakim, juga gagal melobi Komisi Eropa. Sejak Juli lalu semua maskapai Indonesia dan beberapa maskapai asing masuk daftar hitam maskapai yang dilarang terbang ke Eropa karena alasan keselamatan. Larangan yang berlaku selama tiga bulan dan baru akan dievaluasi pada sidang akhir Oktober. Meski tak ada maskapai nasional yang memiliki rute ke Eropa, larangan itu sangat memukul citra penerbangan nasional
Imron Rosyid





