Panasonic dan Matshushita Tinggalkan Indonesia
Sabtu, 29 September 2007 | 00:03 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Dua pabrik milik pemodal Jepang, PT Panasonic Electronic Devices Indonesia (PEDIDA) dan PT Matshushita Toshiba Pictures Devices Indonesia akan merelokasikan pabrik ke Jepang. Dua pabrik yang memproduksi komponen elektronik menutup pabrik di Cibitung dan Cikarang, Jawa Barat karena teknologi pabrik dianggap sudah tak memadai kebutuhan pasar.
"Mereka memilih untuk mengembangkan bisnis di negara Jepang. Karena secara skala ekonomi lebih menguntungkan dan risiko bisnis kecil," ujar Ketua Gabungan Elektronik untuk Urusan ASEAN dan Jepang, Heru Santoso di Jakarta (28/9).
Menurut Heru belum ada satu pun pabrik plasma dan panel LCD di Indonesia. "Seperti pabrik LG dan Samsung, mereka produksi plasma dan LCD di negaranya," tutur Heru.
PT Panasonic Electronic yang saat ini memiliki pabrik di Batam, kemungkinan pun akan mengalami relokasi. "Untuk di Batam, mungkin saja (mengalami relokasi), apabila pilihan strateginya seperti itu," ujarnya.
PT Panasonic Electronic dan PT Matshushita Toshiba, dimiliki seratus persen oleh Mashushita Electric Industrial Co. Ltd Jepang. Sebelumnya keluarga Gobel sempat memiliki saham pada PT Panasonic Electronic, namun kemudian dijual.
Menurut Heru, relokasi ke dua pabrik karena kebutuhan teknologi. Kedua pabrik dinilai sudah ketinggalan zaman dengan teknologi lama. "Sekarang sudah terjadi perubahan teknologi secara gencar di elektronik, sekarang menggunakan chip," kata Heru. Penggunaan teknologi tinggi ini, katanya membutuhkan investasi yang besar.
PT Panasonic Electronic memproduksi audio visual speaker di Cibitung, Jawa Barat.
Sementara itu pabrik PT Matshushita Toshiba selama ini memproduksi tabung gambar televisi (CRT) yang ada di Cikarang Bitung, Jawa Barat.
Dirjen Industri Alat Transportasi dan Telematika, Budi Darmadi menilai kebutuhan komponen elektronik saat ini membutuhkan spesifikasi digital. "Jadi ketika teknologi berubah, mesin-mesin lama tak lagi bisa digunakan," ujarnya.
Saat ini tingkat utilisasi industri komponen Tanah Air sekitar 67 persen dengan nilai produksi Rp 45 miliar.
Sementara itu para buruh PT Panasonic Electronic Devices Indonesia (PEDIDA) sebanyak 1.744 orang mengharapkan perusahaan membatalkan proses penutupan pabrik. Hingga kini, para buruh menilai penjelasan perusahaan yang mengatakan tak dapat berproduksi kembali sebagai hal yang aneh.
"Kami selama ini bekerja secara penuh dan bahkan lembur, tapi kok tiba-tiba ada penutupan perusahaan," ujar Sekretaris Jenderal Serikat Pekerja PEDIDA, Suryatna, dihubungi Tempo (28/9).
Para buruh mengharapkan agar perusahaan tak melakukan likuidasi dan tetap memperkerjakan karyawan. Dari 1744 orang karyawan sebanyak 1500 orang adalah pekerja tetap dan sisanya karyawan kontrakan.
Karyawan sebagian besar bekerja sejak tahun 1993. Saat ini mereka dibayar Upah Minimum Regional wilayah Bekasi sekitar Rp 920 ribu per bulan. Perseroan belum menghitung jumlah pesangon yang akan diberikan ke karyawan.
Yuliawati
Topik :






Komentar Anda :