Sidang Paripurna DPR Ricuh
Selasa, 09 Oktober 2007 | 17:01 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sidang Paripurna DPR yang mengagendakan persetujuan RAPBN 2008 sempat berlangsung ricuh. Pemicunya, sekitar 70 mahasiswa dari BEM Universitas Indonesia melakukan orasi dan aksi demonstrasi di balkon menuntut realisasi anggaran pendidikan 20 persen dalam APBN 2008.
Orasi dan lagu perjuangan yang mereka nyanyikan membuat sidang sejenak terhenti. Aparat pengamanan DPR yang merasa kecolongan pun langsung bertindak represif. Mereka menghalangi mahasiswa yang akan membentangkan spanduknya.
Tempo berada di tengah kerumunan mahasiswa ketika salah seorang anggota pengamanan DPR memukul mahasiswa yang mempertahankan spanduk yang akan direbut.
Pimpinan Sidang Soetardjo Soerjogoeritno melalui pengeras suara meminta agar mahasiswa tertib dan aparat tidak bertindak represif. Namun, peringatan itu tidak dihiraukan. Kericuhan mereda setelah mahasiswa mengalah dan keluar dari ruang sidang. Spanduk yang bertuliskan “Dewan yang terhormat jangan sahkan APBN 2008 kalau anggaran pendidikan tidak 20 persen” pun direbut oleh anggota pengamanan DPR.
Anggota DPR yang juga Ketua Badan Kehormatan DPR Slamet Effendy Yusuf pun ikut turun untuk menenangkan mahasiswa dan mencegah anggota pengamanan DPR bertindak represif. “Pamdal jangan over acting,” katanya.
Ketua BEM UI Muhammad Tri Andika mengungkapkan penyesalannya terhadap tindakan represif aparat pengamanan DPR. Dia mengakui jika orasi yang digelar di dalam ruang sidang melanggar tata tertib. “Tapi mereka (anggota DPR) melanggar konstitusi karena mengesahkan anggaran pendidikan hanya 10,8 persen,” katanya.
Aksi yang mereka lakukan merupakan bentuk kekecewaan terhadap anggota Dewan. “Mana komitmen mereka terhadap pendidikan,” katanya.
Ia juga menyesalkan kinerja anggota Dewan dengan sedikitnya anggota Dewan yang hadir dalam sidang paripurna. “Dimana mereka dari 550 anggota Dewan hanya segelintir yang hadir,” katanya.
Sidang paripurna memang tidak banyak dihadiri oleh anggota DPR, sebagian besar kursi tampak kosong.
Mahasiswa yang sebagian besar mengenakan jaket almamater warna kuning itu pun akhirnya meninggalkan gedung DPR dengan terus menyanyikan lagu-lagu perjuangan.
Gunanto E S





