Saat Lebaran, 10 Pembangkit Listrik Dimatikan
Selasa, 09 Oktober 2007 | 22:52 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: JAKARTA -- Sepuluh pembangkit listrik akan dimatikan PT PLN (Persero) periode Idul Fitri. General Manager PLN Pusat Penyaluran dan Pendistribusian (P3B) Jawa Bali, Muljo Adjie mengatakan kesepuluh pembangkit listrik listrik itu dimatikan karena adanya pengurangan beban pemakaian listrik.
"Pembangkit tidak dioperasikan karena beban listrik selama periode Lebaran rendah, sekitar 5.055 megawatt (MW)," kata Muljo, seusai acara buka bersama di Gedung PLN, Jakarta, Selasa malam (9/10).
Muljo menjelaskan, penurunan beban puncak terjadi karena kegiatan operasional industri berkurang. Selain itu, banyak pengguna listrik yang mudik pada saat Lebaran. Beban puncak saat Idul Fitri (13 Oktober) diperkirakan sebesar 11.140 MW, sementara beban puncak hari kerja sekitar 15.725 MW (status 4 Oktober).
Pembangkit listrik yang dimatikan, lanjut Muljo, terutama pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar solar. Inilah kesepuluh pembangkit listrik yang tidak dioperasikan itu: Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya unit 2 (400 MW), Tanjung Jati 2 (660 MW), Cilacap 2 (300 MW), Paiton PEC unit 7 (645 MW), dan Paiton Jawa Power 5 (610 MW). Juga, Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Tambaklorok blok 1 dan blok 2 (2x480 MW), Grati blok 1 (460 MW), Muaratawar blok 1 (580 MW), dan Gresik blok 2 (440 MW).
Berkait dengan rencana itu, Direktur PLN, Eddie Widiono, menjamin jumlah pembangkit listrik yang beroperasi dan tersedia sangat cukup untuk melayani kebutuhan selama periode Lebaran. Alasannya, pembangkit listrik yang masih beroperasi masih menyediakan cadangan listrik sebesar 2.000-3.000 MW.
Nieke Indrietta





