Ekonom Khawatir Pemerintah Lakukan Window Dressing
Minggu, 21 Oktober 2007 | 09:16 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Kalangan ekonom khawatir Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dalam laporan ekonominya akan melakukan window dressing atau laporan keuangan yang jauh lebih baik dibanding kondisi sebenarnya. "Selama tiga tahun masa pemerintahan SBY, kinerjanya masih jauh dari janji-janji mereka di masa kampanye," kata Ekonom Universitas Gadjah Mada Sri Adiningsih ketika dihubungi Tempo hari ini.
Menurut dia, seperti halnya perusahaan, di akhir masa kerjanya para direksi kerap melakukan window dressing agar laporannya terlihat bagus. Secara politis,window dressing akan membuat pemerintahan seolah-olah berhasil mencapai target-targetnya.
Teknik tersebut, kata Sri, seharusnya dihindari karena tak memberikan dampak positif bagi perekonomian. "Memang pemerintah akan populis tapi itu bukan kenyataan yang sebenarnya," kata dia.
Sri Adiningsih mencontohkan teknik window dressing yaitu dengan memperbanyak belanja anggaran untuk program-program bantuan sosial. Dengan menganggarkan Rp 70 triliun, Pemerintah bisa membagi Rp 2 juta per orang per tahun dan meminta masyarakat penerima melakukan aktifitas ekonomi tertentu.
Dengan uang Rp 70 triliun itu, secara statistik, kata Sri, Pemeintah akan mengangkat 35 juta orang dari kemiskinan. Tapi itu hanya window dressing, kenyataannya mereka tetap miskin. Potensi melakukan window dressing dalam mengelola APBN sangat mudah. "Caranya, bagi-bagi duit untuk orang miskin," kata Sri.
Menurut dia, cara bagi-bagi duit hanya akan membuat orang miskin makin miskin, karena tingkat ketergantungannya semakin tinggi. "Itu sama saja dengan memberi ikan terus menerus. Seharusnya Pemerintah memberikan kail," ujarnya.
AGUS SUPRIYANTO
TOPIK
Komentar Anda
- WD
wah artikel tentang window dressing nya gamapng bangat dicerna. thanks buat tambahan ilmu nya ttg window dressing
Pengirim : vIK2 di Pontianak





