Saham Energi dan Pertambangan Prospektif

Senin, 22 Oktober 2007 | 04:39 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Melambungnya harga minyak di pasar dunia, yang menembus level US$ 90 per barel, telah memberikan angin segar terhadap emiten energi dan pertambangan. Selain emiten produsen minyak, menurut kalangan analis saham, saham emiten pertambangan nonminyak menarik untuk dikoleksi.

Kenaikan harga minyak, yang dipicu oleh peningkatan kebutuhan selama musim dingin dan tekanan pada kawasan penghasil minyak di Irak bagian utara, ini akan berlangsung hingga akhir tahun. Bahkan analis memprediksi harga komoditas tersebut sangat mungkin menembus level US$ 100 per barel.

Kepala Riset PT Henan Putihrai Ahmad Triono Prayoga mengatakan tingginya harga minyak dunia pasti berimbas positif terhadap harga saham emiten energi dan pertambangan. Seperti terhadap PT Medco International Tbk., PT Bumi Resources Tbk., dan PT Tambang Bukit Asam Tbk.

Namun, saat ini, Ahmad memprediksi komoditas batu bara akan lebih menguntungkan daripada minyak. "Sebab, para pelaku industri memilih beralih ke energi alternatif, seperti batu bara," katanya kepada Tempo akhir pekan lalu.

Menurut dia, untuk saham Bumi dan Bukit Asam, yang berproduksi secara langsung, akan menikmati sentimen positif yang lebih besar dibanding Medco, yang harus menikmati keuntungan berdasarkan kontrak.

Kepala Riset BNI Securities Norico Gaman juga menilai emiten energi dan pertambangan, seperti Medco, Bukit Asam, dan Bumi, cukup prospektif. "Dengan kondisi saat ini, kebutuhan akan energi dan penggantinya akan berkelanjutan," katanya.

Dia memperkirakan saham emiten penghasil logam, seperti PT Aneka Tambang Tbk., PT Timah Tbk., dan PT International Nickel Indonesia Tbk., akan terimbas positif. "Sebab, kenaikan harga minyak juga diimbangi dengan kenaikan harga logam," ujarnya.

Norico pun merekomendasikan beli pada saham-saham emiten tersebut. Dia memperkirakan, dalam 12 bulan ke depan, harga saham Medco masih dapat mencapai nilai wajar Rp 6.500 per lembar. Adapun saham Bumi diperkirakan masih bisa mencapai harga Rp 5.300. "Bumi masih punya apresiasi karena price earning ratio-nya masih rendah," tutur dia.

Selain itu, dia memprediksi Antam masih bisa mencapai harga Rp 5.000, Inco Rp 86 ribu, dan Timah Rp 24 ribu. "Saham Bukit Asam mungkin perlu adjustment karena harga sahamnya sudah tinggi," kata Norico.

Sementara itu, Ahmad merekomendasikan agar mengoleksi saham-saham tersebut secara jangka panjang. "Jangan jangka pendek karena indeks saham saat ini sudah tinggi," ujarnya.

l WAHYUDIN FAHMI






Komentar Anda

Kirim