Pemerintah Dinilai Tanpa Perencanaan
Kamis, 25 Oktober 2007 | 18:53 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Ekonom Faisal Basri menilai pemerintah tidak melakukan perencanaan dulu sebelum menetapkan asumsi harga minyak dunia US$ 60 per barel di APBN Perubahan 2007.
Padahal, kata dia lebih lanjut, faktanya sudah jelas bahwa peningkatan konsumsi minyak lebih tinggi dari pada produksi. Seluruh data soal itu sudah sudah ada dan gampang dilihat. Selain itu, kapasitas produksi minyak OPEC tinggal 3 juta barel. Artinya, kalau ada apa-apa di OPEC, harga sudah pasti naik. "Sebodoh itukah pemerintah dan DPR kita," kata di Jakarta, Kamis (25/10).
Menurut dia, dengan mempertahankan asumsi harga minyak US$ 60 per barelsama saja dengan membohongi diri sendiri. Apabila kemudian pemerintah menaikan asumsi harga minyak menjadi US$ 80 per barel maka subsidi bahan bakar minyak bakal naik menjadi Rp 100 triliun. "Kaya gitu-kan nggak enak dilihat mata," katanya.
Faisal memprediksi, harga minyak baru akan turun sampai di bawah US$ 70 per barel pada 2009. Dia juga menengarai produksi minyak sebesar 1,034 juta barel pada 2008 sudah termasuk produksi 50.000 barel dari Blok Cepu.
Gunanto E S





