|
Kalla : Ekonomi Indonesia Kedepan Harus Disikapi Optimis
Kamis, 25 Oktober 2007 | 19:46 WIB
TEMPO Interaktif, Makassa:
Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan Indonesia tidak akan dianggap enteng atau diusili oleh Malaysia jika memiliki perekonomian yang maju atau ekonomi diatas Malaysia.
Menurut Kalla, secara tidak langsung atau langsung, Malaysia selalu menganggap enteng Indonesia dan kerap mengganggap Indonesia sebagai negara kelas pembantu rumah tangga atau kelas buruh.
"Supaya kita dihargai, maka perekonomian harus maju dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi," ujar Kalla saat melakukan dialog dengan masyarakat dan Media Makassar di Gedung Graha Pena Makassar Kamis (25/10).
Indonesia, kata Kalla,memang terlambat dalam ekonomi di banding Malaysia dan Singapura karena tidak percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki sebagai bangsa kepulauan. "Kalau marah-marah saja ketika ada masalah dengan Malaysia juga tidak ada artinya kalau ekonomi enggak maju," kata dia.
Menurut Kalla, tidak ada alasan Indonesia tidak bisa maju. Sumber daya alam termasuk energi,mineral, dan komoditi dimiliki secara melimpah. Sumber daya manusia pun tidak kekurangan. "Ini terjadi karena kita selalu berpikir pesimis sehingga orang luar melihatnya Indonesia tidak percaya diri," kata Kalla.
Dalam jangka pendek, ujar Kalla, target realistis adalah menetapkan Vietnam sebagai benchmark pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Kalau Malaysia dan Singapura akan sulit dikejar, jadi kita harus bisa terus di depan Vietnam," kata dia.
Sektor tenaga kerja, kata Kalla, akan dibuat seadaptif mungkin bagi sektor investasi. Perbankan dalam negeri juga akan dioptimalkan sehingga ketergantungan terhadap pinjaman asing berkurang.
"Mari kita lihat ekonomi ke depan secara optimis," ujar dia. Pertumbuhan 2009 sebesar 9 persen, kata dia, akan diusahakan tercapai dengan melakukan program-program yang dapat meningkatkan pertumbuhan sektor riil seperti meningkatkan pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Pemerintah juga, ujar Kalla, akan terus mengurangi aspek ketergantungan global yang berdampak negatif terhadap ekonomi seperti fluktuasi harga minyak mentah dunia. "Saatnya nanti kita harus menikmati revenue, bukan kesulitan akibat itu," kata dia.
Anton Aprianto
INDEKS BERITA LAINNYA :
|