BNI Berancang Lepas Status Pengawasan Intensif

Kamis, 25 Oktober 2007 | 19:59 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) berancang-ancang keluar dari pengawasan intensif Bank Indonesia (BI). Bank pelat merah itu akan melayangkan surat ke bank sentral menyusul turunnya rasio kredit macet atau non performance loan (NPL) net di bawah lima persen pada triwulan ketiga 2007.

Direktur Utama BNI Sigit Pramono mengungkapkan NPL nett BNI kini telah berada di posisi 4,7 persen, sedangkan NPL gross 8,3 persen. Posisi itu jauh lebih rendah dibanding periode yang sama tahun 2006, ketika NPL net dan NPL gross BNI masing-masing berada mencapai 11,58 persen dan 16,58 persen. "Bagi kami tidak ada masalah dengan status administratif itu (pengawasan BI). Tapi kami bisa semakin luas melakukan ekspansi jika lepas," kata Sigit memaparkan kinerja triwulan ketiga BNI di Gedung BNI.

Dengan pencapaian NPL di bawah bawah 5 persen ini, terhitung akhir September 2007 BNI sudah memenuhi kriteria yang ditetapkan bank sentral sebagai bank jangkar. Sigit memaparkan, hasil upaya restrukturisasi kredit bermasalah telah mengurangi nilai NPL menjadi Rp 6,6 triliun, dari sebelumnya Rp 10,1 triliun pada September 2006.

Dari jumlah itu, lanjutnya, kredit macet pada segmen korporasi menunjukkan penurunan terbesar, dari Rp 4,7 triliun menjadi Rp1,9 triliun. Kredit seret kredit usaha kecil dan menengah masing-masing adalah Rp 2,1 triliun dan Rp 1,5 triliun. Sedangkan kredit macet sektor konsumer hanya mencapai Rp 600 miliar.

Wakil Direktur Utama BNI Gatot Suwondo menambahkan, keberhasilan bank yang dikelolanya meredam NPL juga dipengaruhi meningkatnya penyaluran kredit. Hingga September 2007, kredit yang disalurkan pelat merah ini mencapai Rp 79,5 triliun, naik 30 persen dari periode yang sama tahun lalu Rp 61,3 triliun.

Sedangkan, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) mencapai 6 persen (yoy) menjadi Rp 133,98 triliun, dengan pertumbuhan terbesar terjadi pada dana tabungan yang tumbuh 22 persen.

"Loan to deposite ratio juga meningkat menjadi 59,42 persen dari sebelumnya hanya
48,55 persen," ungkapnya.

Dia menambahkan, pertumbuhan juga terjadi pada keuntungan. Laba bersih BNI mencapai Rp1,559 triliun atau naik 11 persen (yoy). Peningkatan laba ini didorong meningkatnya pendapatan non bunga sebesar 66 persen mencapai Rp 3,09 triliun.

Meski demikian, Gatot mengungkapkan, pendapatan bunga malah turun tipis menjadi Rp 11,2 triliun dari sebelumnya Rp 11,1 triliun. "Ini akibat upaya kami untuk menarik nasabah dengan meningkatkan bunga simpanan awal tahun lalu," tuturnya.

Secara terpisah, Direktur Direktorat Pengawasan Bank I Bank Indonesia (BI) Ahdi J Luddin mengatakan pihaknya akan mengevaluasi laporan keuangan yang dipublikasikan BNI untuk dasar keputusan mengeluarkan bank dari status pengawasan intensif ke pengawasan reguler. "Kami review beberapa hari," tuturnya.

Menurut dia, keluarnya satu bank dari pengawasan intensif BI tak hanya disebabkan keberhasilan memperbaiki kualitas kredit, tapi juga peningkatan volume penyaluran kredit.

AGOENG WIJAYA






Komentar Anda

Kirim