Pemerintah Waspadai Perlambatan Ekonomi Global

Sabtu, 27 Oktober 2007 | 00:49 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah mewaspadai terjadinya resesi ekonomi dunia akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi global. "Resesi ekonomi dunia bisa terjadi bisa juga tidak. Kami tetap bersiap-siap saja,” kata Menteri Koordinator Perekonomian Boediono di Jakarta kemarin.

Menurut dia, perlambatan pertumbuhan ekonomi global memang akan terjadi, meski besarannya belum bisa diprediksi. Namun, dia tetap optimismenya melambatnya ekonomi global tersebut tidak akan sampai mengakibatkan resesi ekonomi dunia.

Bakal terjadi atau tidaknya resesi ekonomi dunia, kata dia, bergantung perubahan-perubahan yang terjadi tahun depan, terutama di Amerika Serikat. Negara adidaya tersebut akan menjadi penentu nasib ekonomi planet ini. “Apakah pertumbuhan mereka jatuh (hard landing) atau hanya melemah perlahan (soft landing),” katanya.

Dalam sidang tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) di AS, Selasa lalu, Ketua IMF Rodrigo de Rato memperingkatkan gejolak di pasar kredit (subprime mortgage) bisa mengakibatkan resesi dunia. Krisis subprime mortgage) yang terjadi sejak Juli lalu telah merontokkan pasar keuangan global.

Gejolak lebih lanjut di pasar keuangan dan penurunan tajam harga rumah dapat memicu penurunan ekonomi global dan meningkatkan risiko lain, seperti risiko pangan, melonjaknya harga minyak, kejatuhan dolar. IMF hanya bisa berekspektasi terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi global meski tidak sampai menimbulkan resesi di Amerika Serikat.

Boediono melanjutkan, perekonomian Indonesia pasti juga akan terkena dampaknya akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi global tersebut. Kendati begitu, dia tetap optimistis pemerintah akan mencapai target pertumbuhan ekonomi yang telah ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). "Saya optimistis target pertumbuhan 2007 sebesar 6,3 persen dan 6,5-7 persen pada 2008 akan tercapai,” katanya.

Staf Khusus Menteri Koordinator Perekonomian M. Ikhsan menambahkan, perekonomian Indonesia belum terpengaruh oleh adanya ancaman resesi global karena dukungan ekspor komoditas unggulan. "Ekspor tidak akan terpengaruh dengan pelemahan ekonomi global bahkan cenderung tumbuh," katanya di Jakarta kemarin.

Saat ini harga minyak dunia memang sedang tinggi. Namun, di saat harga si emas hitam ini melonjak, biasanya harga komoditas yang bisa mensubstitusi minyak, seperti minyak kelapa sawit (CPO), batu bara dam juga komoditas pertanian lain sepert karet akan ikut melonjak. “Permintaan komoditas tersebut tetap ada meskipun resesi," kata Ikhsan.

Di tempat terpisah, Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah belum melihat adanya rencana negara maju memproteksi diri di tengah ketidakseimbangan ekonomi global saat ini.

Burhanuddin menjelaskan, dalam pertemuan gubernur bank sentral se-dunia dengan IMF pekan lalu, beberapa negara berkembang memperingatkan agar negara maju tak melakukan proteksionisme di tengah ketidakseimbangan dunia saat ini. “Aksi proteksi lebih berbahaya ketimbang global imbalances.” ujarnya.

AGUS SUPRIYANTO | AGOENG WIJAYA






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: