Pertumbuhan Investasi 2008 Bakal Turun
Senin, 29 Oktober 2007 | 02:11 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah memprediksi pertumbuhan investasi tahun depan bakal turun seiring perlambatan ekonomi global yang dipicu tren kenaikan harga minyak mentah dunia.
“Semester pertama mungkin belum ada pengaruh, tapi kalau harga (minyak mentah) naik terus, investasi 2008 akan terpengaruh,” ujar Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Muhammad Lutfi di Jakarta.
Pada perdagangan Jumat lalu, harga minyak mentah terus berfluktuasi hingga menembus rekor baru US$ 92,22 per barel. Perkiraan harga akan mencapai US$ 100 per barel pun terus mengemuka akibat tingginya kebutuhan minyak menjelang musim dingin serta memanasnya suhu politik Turki-Irak dan Amerika Serikat-Iran.
Lutfi menuturkan, faktor harga minyak mentah cukup mempengaruhi calon investor dalam menentukan negara pilihan untuk berinvestasi. Sebab, setiap kenaikan (harga minyak mentah) US$ 1 berpengaruh besar, terutama pada kenaikan harga bahan bakar minyak dan barang lain. "Walau begitu, Indonesia masih sangat kompetitif karena sedang memperbaiki value chain komoditi primer," tuturnya.
Lutfi memperkirakan, pelambatan investasi tahun depan juga disebabkan siklus penanaman modal yang terjadi dua tahun sekali. “Kalau 2005 (realisasi investasi) baik, 2006 hanya 76 persen dari 2005. Sekarang (2007) baik, jadi tahun depan bisa jadi kurang dari sebelumnya. Memang sequence-nya begitu,” ucapnya.
Namun, Lutfi optimistis, nilai realisasi investasi tahun ini bakal lebih baik dibanding 2006. Hingga akhir September lalu, realisasi investasi sudah mencapai US$ 11 miliar. Sementara target tahun ini, investasi tumbuh 15 persen dibandingkan tahun lalu yang artinya US$ 15,5 miliar.
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menilai, perlambatan ekonomi lebih akan berdampak pada negara maju yang pertumbuhannya bakal melambat. “Negara Asia yang pertumbuhannya masih tinggi dan perubahan struktur di kawasan ini seperti Korea, Jepang, Taiwan dan Cina masih mendorong masuknya investasi,” katanya.
Kalangan usaha pun memprediksi, pertumbuhan investasi tahun depan bakal lebih berat dibandingkan 2007. Karena, pemerintah masih harus bekerja keras memperbaiki iklim investasi dalam waktu yang singkat ini, khususnya untuk menekan biaya ekonomi tinggi. "Pemerintah harus memperbaiki iklim investasi terutama di bidang penyediaan infrastruktur dan perbaikan kebijakan," ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi pada Tempo, akhir pekan lalu.
Menurut catatan BKPM, hingga semester pertama tahun ini investasi asing mencapai US$ 4,1 miliar. Jumlah setara Rp 36,9 triliun ini naik 16,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu US$ 3,51 miliar. Investasi asing ini menyumbang hampir 57 persen dari total investasi di dalam negeri yang nilainya Rp 65,3 triliun. Sedangkan 43 persen investasi datang dari dalam negeri sebesar Rp 28,4 triliun.
Lebih lanjut, Menteri Perdagangan mengakui rancangan Peraturan Presiden tentang Tata Cara dan Pelaksanaan Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Bidang Penanaman Modal bakal molor dari jadwal yakni Juli lalu. "Kami ingin secepatnya selesai, sebelum akhir tahun ini," kata Mari.
Aturan teknis investasi ini merupakan implementasi Undang-Undang 25/2007 tentang Penanaman Modal yang disahkan parlemen pada 29 Maret 2007. Aturan ini sangat ditunggu-tunggu para investor karena menjanjikan pelayanan investasi yang efektif dan efisien karena menghapus keruwetan birokrasi.
Lutfi menambahkan, masih harus ada pembahasan detail dari 17 sektor terkait dan sedikitnya meliputi 187 jenis perizinan. “Bagaimana mengerucutkan perizinan menjadi satu pintu, ini memang challenge tersendiri. Kami sudah lumayan maju dan lebih baik telat sedikit tapi implementasinya lebih baik,” papar Lutfi.
RR ARIYANI
Topik :




Komentar Anda :