PT RaiLink Gantung Tawaran Pemerintah
Selasa, 30 Oktober 2007 | 00:51 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: PT RaiLink belum menjawab tawaran pemerintah soal skenario untuk mempercepat penyelesaian proyek kereta bandar udara Jakarta senilai Rp 1,5 triliun. Pemilik proyek kereta bandara ini berdalih, keputusan menunggu Detail Engineering Design (DED) tuntas disusun pada Desember nanti.
"Kalau DED belum jadi, kami belum bisa (menjawab) apa-apa," kata Direktur Utama RaiLink Masjraul Hidayat ketika dihubungi di Jakarta kemarin. Menurut Masjraul, pada prinsipnya RaiLink menyambut baik tawaran pemerintah. "Lebih cepat lebih baik, mana yang lebih cepat saja."
Sebelumnya, pemerintah mengajukan opsi kerja sama pengerjaan untuk mempercepat proyek jika hingga tahun depan tak kunjung ada perkembangan. Pemerintah ingin menggarap pembangunan rel, sedangkan RaiLink mengadakan keretanya.
Sekretaris Jenderal Departemen Perhubungan Wendy Aritenang Yazid pada Jumat pekan lalu menyatakan tahapan pengerjaan proyek belum jelas. Padahal, kereta bandara sudah ditetapkan sebagai salah satu sarana untuk mengejar target layanan terhadap 1,5 juta penumpang harian kereta di Jakarta dan sekitarnya pada 2009.
Bahkan, Hatta Rajasa, pada April silam, ketika masih menjabat Menteri Perhubungan, sempat mengancam akan mengambilalih proyek karena menilai pengerjaaan berlarut-larut. (Koran Tempo, 27 Oktober)
Jalur kereta bandara direncanakan melintang dari Stasiun Manggarai sampai Bandara Soekarno-Hatta. Dengan jalur Stasiun Duri-Muara Angke-Bandara. Panjang lintasannya 27 kilometer, sedangkan sebelumnya 31 kilometer dengan rute Stasiun Duri-Kalideres-Soekarno-Hatta.
Masjraul menjelaskan pada akhir November perusahaannya juga akan menyampaikan laporan resmi kepada Pemerintah DKI Jakarta dan Tangerang, sebagai pemilik lokasi proyek, mengenai pembebasan lahan. Peta rinci sudah jadi sehingga mempermudah pembicaraan dengan pemerintah daerah.
Menurut dia, sudah ada sejumlah calon investor yang menyatakan berminat. "Yang melihat-lihat sudah banyak," ujarnya. Ia memperkirakan kebutuhan investasi tidak akan berubah banyak dari hitungan semula.
RaiLink yang dibentuk pada September tahun lalu adalah perusahaan patungan PT Kereta Api (60 persen) dan PT Angkasa Pura II (40 persen). Pada September tahun ini, RaiLink menggandeng PT Jasa Marga dan PT Wijaya Karya dalam penggarapan proyek.
Wendy Aritenang pun mengaku heran mengapa pengerjaan proyek lambat. "Padahal secara bisnis sangat layak, tidak ada
saingannya," katanya. Apalagi, investasi untuk
proyek itu juga tidak terlalu besar.
Namun, jika pemerintah tergesa-gesa mengambilalih proyek dikhawatirkan menjadi preseden buruk bagi konsep pembangunan infrastruktur yang tengah dikembangkan. Yakni kerja sama pemerintah dengan swasta (public private partnership/PPP).
Wendy memastikan Departemen perhubungan akan memanggil pihak-pihak yang terkait dengan pelaksana proyek kereta bandara. Mereka akan diminta memaparkan tahapan-tahapan proyek yang sudah dan akan dijalankan. "Agar jelas dan tidak hanya dugaan," ucapnya.
Harun Mahbub Billah





