Target Proyek Kereta Bandara Sulit Tercapai
Rabu, 31 Oktober 2007 | 03:29 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Pengamat perkeretaapian dari Institut Teknologi Bandung Harun al-Rasyid Lubis menyatakan target kereta bandar udara di Jakarta beroperasi pada 2009 mendatang sulit tercapai. "Berat, belum cari investor, tender, dan pengerjaan konstruksinya," katanya ketika dihubungi di Bandung kemarin.
Menurut dia, mencari investor dan proses tender membutukan waktu 4-6 bulan. "Semua bisa ngaku investor, tapi suruh naruh uang tak ada." Seperti halnya proyek infrastruktur lainnya, Harun berpendapat, proyek kereta bandara juga harus memiliki regulasi pelaksanaan yang jelas.
Jalur kereta bandara akan dibangun melintas dari Stasiun Manggarai sampai Bandara Soekarno-Hatta melalui rute Stasiun Duri-Muara Angke-Bandara dengan panjang lintasan 27 kilometer. PT RaiLink, pelaksana proyek itu, masih berkutat pada penyusunan detail engineeering design (DED).
Padahal, proyek senilai Rp 1,5 triliun itu digarap sejak September tahun lalu dan ditargetkan selesai pada 2009. Nah, DED RaiLink rencananya baru kelar pada Desember nanti.
Itu sebabnya, Departemen Perhubungan mengajukan skenario pembangian kerja jika menginjak tahun depan tak kunjung ada perkembangan. Skenario itu, pemerintah menggarap proyek relnya sedangkan RaiLink menyelesaikan keretanya.
Pada April silam, Menteri Perhubungan kala itu, Hatta Radjasa, mengancam mengambilalih proyek jika pengerjaan lambat. RaiLing belum menjawab tawaran pemerintah dengan alasan menunggu DED.
Harun mengatakan jika proyek digarap tergesa-gesa akan muncul persoalan. Data dan kajian tak akurat, skema bisnis dan kerja sama tak rasional, teknis desain tidak akurat, dan perkiraan biaya meleset. "Tinggal tunggu piring kotornya," ujarnya.
Harun mengimbau semua pihak yang terkait seperti pelaksana dan pemerintah aagar duduk bersama untuk mematangkan agenda percepatan proyek. "Hindari nuansa hanya soal siapa yang pegang proyek."
Ia pun mendukung niat pemerintah untuk membantu percepatan proyek dengan skenario kerja sama pengerjaan. "Hebat sekali, tapi apa ada uangnya," ucap Harun.
Sekretaris Jenderal Departemen Perhubungan Wendy Aritenang mengaku heran mengapa pengerjaan proyek lambat. "Padahal secara bisnis sangat layak, tak ada saingannya," katanya Jumat pekan lalu. Apalagi, investasi untuk proyek itu juga tidak terlalu besar.
Namun, jika pemerintah tergesa-gesa mengambilalih proyek dikhawatirkan menjadi preseden buruk bagi konsep pembangunan infrastruktur yang tengah dikembangkan. Yakni kerja sama pemerintah dengan swasta (public private partnership/PPP).
Wendy memastikan Departemen perhubungan akan memanggil pihak-pihak yang terkait dengan pelaksana proyek kereta bandara. Mereka akan diminta memaparkan tahapan-tahapan proyek yang sudah dan akan dijalankan. "Agar jelas dan tidak hanya dugaan," ucapnya. (Koran Tempo, 31 Oktober)
Harun Mahbub Billah





