BI: Pertumbuhan Ekonomi Paradoks dengan Pengangguran dan Kemiskinan
Rabu, 31 Oktober 2007 | 13:46 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Bank Indonesia mengungkapkan paradoks antara pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran-kemiskinan.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda S. Goeltom menuturkan, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, kondisi perekonomian terus membaik. Pertumbuhan ekonomi terus berada di atas 5 persen. Laju inflasi triwulan ketiga 2007 berpotensi mencapai 6,2 persen.
Tapi, kata Miranda, kondisi pengangguran dan kemiskinan masih relatif tinggi. Pengangguran terbuka tahun 2006 dan pertengahan tahun 2007 masing-masing mencapai 10,9 juta (10,3 persen) dan 10,6 juta (9,8 persen). Demikian halnya dengan jumlah kemiskinan, yang hingga Juni 2007 masih mencapai 37,17 juta atau 17,75 persen dari total penduduk Indonesia.
"Angka pengangguran ini lebih tinggi dari sebelum krisis 1997 yang berada pada 4,7 persen," kata Miranda dalam Round-table Discussion "Koordinasi Kebijakan Fiskal dan Moneter dalam Mendukung Peningkatan Kegiatan Sektor Riil" di Gedung Bank Indonesia, Rabu (31/10).
Miranda mengatakan, hasil kajian BI tahun lalu menyimpulkan peningkatan pengangguran dan kemiskinan disebabkan pertumbuhan ekonomi yang lebih didorong sektor non-tradable. "Sektor itu sedikit menyerap tenaga kerja," ujarnya.
Dia menilai, dalam jangka panjang, fenomena paradoksial rentan bagi kestabilan ekonomi makro. "Jika kondisi ekonomi masyarakat semakin buruk sudah dipastikan akan berdampak penurunan permintaan," katanya. Miranda mengingatkan, tak seimbangnya permintaan dan penawaran bakal mempengaruhi tingkat inflasi.
AGOENG WIJAYA





