Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Pasokan Batu Bara Tersendat
Kamis, 01 November 2007 | 02:44 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Sebelum pemerintah menerapkan domestic market obligation pada produsen batu bara, industri dalam negeri sudah merasakan seretnya pasokan batu bara. Sebab, lonjakan harga minyak mentah dunia telah memicu derasnya kebutuhan batu bara dunia.

Menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian G Ismy, industri batu bara mendapatkan pasokan dari kuasa pertambangan (KP) yang ada di Kalimantan Selatan. "(Selama ini) pasokannya sering tak ada kepastian," ujarnya kepada Tempo di Jakarta kemarin.

Lantaran itu, ujar dia lagi, industri tekstil tak melakukan konversi batu bara 100 persen. "Kami masih menggunakan listrik 70 persen dan sisanya batu bara," ujarnya.

Menurut dia, industri mendapat pasokan lewat pedagang (trader). Sebab, kontrak dengan perusahaan pertambangan besar dianggap menggunakan jalur yang berbelit-belit. Namun, seiring dengan melonjaknya harga batu bara internasional, para trader memilih untuk mengekspor batu bara.

Namun, menurut Direktur Sumber Daya Alam Perhimpunan Masyarakat Batu Bara Indonesia Singgih Widagdo, pasar ekspor tak menyedot kebutuhan dalam negeri. "Batu bara diekspor karena penyerapan dalam negeri masih sedikit," ujarnya.

Kebutuhan dalam negeri, kata dia, sekitar 22 persen dari kapasitas produksi batu bara dalam negeri sebanyak 203 juta ton per tahun. Jumlah itu setara dengan 45 juta ton per tahun.

Ekspor batu bara, menurut Singgih, paling banyak dilakukan oleh perusahaan tambang besar. "Mereka sudah punya kontrak, biasanya di pasar Asia Pasifik," katanya.

Permintaan pasokan batu bara terbesar berasal dari Cina dan India, seiring negara itu sedang giat-giatnya menikmati pertumbuhan ekonomi. Adanya permintaan yang melonjak, harga batu bara dunia pun terus mengukir rekor baru hingga sudah menyentuh US$ 78 per ton. Padahal sebelumnya, harga rata-rata sekitar US$ 30 per ton.

l Yuliawati


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Produsen Batu Bara Bakal Dikenai DMO
Cadangan Batubara di Banyuasin 2,5 Miliar Ton
Bukit Asam Akan Akuisisi Perusahaan Tambang
United Tractors Akan Akuisisi Empat Tambang Batubara
Industri Batu Bara Butuh Investasi Rp 11,7 Triliun
Indonesia Pemasok Batu Bara Terbesar
Kapal Pengangkut 9.000 Ton Batubara Terdampar
KPC Diadukan ke Bapepam
Indonesia Kehilangan US$ 2 Miliar dari Angkutan Baru Bara
Gasifikasi Batu Bara untuk Pabrik Pupuk
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk110516 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< November,2007>>
MSnSl RK JS
    01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data