Harga Minyak Dekati US$ 100
Jum'at, 02 November 2007 | 01:54 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Harga minyak dunia terus melonjak tajam mendekati level US$ 100 per barel.
Kemarin, harga minyak sempat mencapai US$ 96,24 per barel setelah Departemen Energi Amerika Serikat mengumumkan stok minyak berkurang 3,9 juta barel. Untuk kontrak utama New York, minyak mentah ringan pengiriman Desember, harga minyak akhirnya ditutup pada level US$ 95,23 per barel. Minyak mentah jenis Brent Laut Utara diperdagangkan pada US$ 91,13 per barel.
Robert Laughlin, pialang pada Man Financial AS mengatakan, harga minyak tak lama lagi akan menyentuk level psikologis. "Seperti ditarik magnet harga mintak ditarik ke level US$ 100 per barel," ujarnya seperti dilansir AFP kemarin. Minyak pernah mencapai harga tertinggi US$ 90,4 per barel saat pecah revolusi Iran pada 1979 lalu.
Di Jakarta, pemerintah menyiapkan jaring pengaman sosial (social safety net) sebagai salah satu skenario untuk mengantisipasi lonjakan harga minyak dunia ke level US$ 100 per barel. "Masih kami kaji bentuknya," kata Menteri Negara Perancanaan Pembangunan Nasional Paskah Suzetta di Jakarta kemarin.
Dia mengatakan, skenario jaring pengaman sosial disiapkan karena melonjaknya harga minyak dunia akan berdampak signifikan, bukan hanya meningkatkan anggaran pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, tetapi juga dampak ekonomi nasional secara keseluruhan.
Dana Moneter Internasional memang sudah memperingatkan gejolak di pasar kredit perumahan (subprime mortgage) yang diikuti oleh lonjakan harga minyak bisa mengakibatkan resesi dunia. Indikasi awalnya pertumbuhan ekonomi global akan melamban sekitar 0,5-1 persen.
Paskah belum bisa memerinci sumber dananya karena pemerintah masih sedang menggodok program tersebut. "Itu nanti lah. Tapi kemungkinan ada penghematan anggaran lagi," katanya.
Program jaring pengaman sosial diluncurkan saat Indonesia dilanda krisis ekonomi pada 1998 lalu. Krisis ini mengakibatkan puluhan juta masyarakat Indonesia menjadi miskin. Program meliputi subsidi harga pangan, operasi pasar beras murah, penciptaan lapangan kerja baru, bantuan kepada usaha kecil dan menengah, serta bantuan biaya kesehatan. JPS dilaksanakan sejak 1998-1999 dengan anggaran sekitar Rp 17 triliun.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan tetap aman dari dampak pertama (first round effect) lonjakan harga minyak. Pemerintah kini mewaspadai dampak lanjutan (second round effect) kenaikan harga minyak terhadap pelemahan ekonomi global dan nasional. Program jaring pengaman sosial salah salah satu kebijakan yang sedang disiapkan mengantisipasi dampak terhadap perekonomian secara keseluruhan itu. "Nanti akan kami kaji. Sekarang kami masih berfokus dulu pada pergerakan harga minyak terhadap penerimaan dengan komposisi pengeluaran," ujarnya.
Pengamat ekonomi dari nstitute for Development of Economics and Finance Indonesia (Indef) Avilliani mengatakan, program Jaminan Sosial tak akan efektif mengatasi dan memecahkan masalah dampak ekonomi akibat melonjaknya harga minyak dunia. "Uangnya habis ya miskin lagi," katanya." "JPS (Jaring Pengaman Sosial) dan program sosial lainnya justru mengajari orang tidak mau kerja," katanya menambahkan.
Dia menyarankan pemerintah menciptakan kelembagaa yang membentuk lapangan kerja dan memperbaiki iklim investasi.
Gunanto E.S | Agus Supriyanto | padjar iswara





