Rupiah dan IHSG Berpotensi Menguat

Senin, 05 November 2007 | 09:34 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan berada pada kisaran Rp 9.045-9.182.

Analis saham Alfiansyah mengatakan pasar saat ini sedang menanti keputusan Dewan Gubernur Bank Indonesia untuk menahan atau menurunkan tingkat suku bunga acuan (BI rate). "Kalau (BI rate) minimal ditahan, rupiah akan terapresiasi," ujarnya.

Menguatnya nilai rupiah, lanjut dia, juga dipengaruhi keputusan The Fed untuk menurunkan suku bunga untuk mengatasi krisis kredit hipotek macet perumahan (subprime mortgage).

Pada akhir pekan lalu rupiah sempat melemah 38 poin terhadap dollar Amerika menjadi Rp 9.133. Salah satu faktor penyebabnya yakni kekuatiran pasar pada ekonomi negeri Abang Sam akibat harga minyak dunia yang masih tinggi.

Alfiansyah berpendapat, tingginya harga minyak dunia justru akan membuat rupiah terapresiasi. "Nilai ekspor-impor dari minyak akan surplus sehingga dana yang masuk banyak," kata dia. Sebab, nilai ekspor minyak bumi lebih tinggi dari impor akibat kualitas minyak Indonesia yang jauh lebih baik.

Namun nilai ekspor-impor ini harus diperhitungkan. "Dengan asumsi nilai ekspor-impor sama, kita masih surplus dan rupiah berpeluang menguat," katanya.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kata dia, nilainya akan juga terus naik karena baiknya kondisi keuangan emiten pada kuartal ketiga 2007.

RIEKA RAHADIANA

Topik :

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :