BTPN Akan Jajaki Singapura dan Hongkong

Rabu, 07 November 2007 | 01:11 WIB

TEMPO Interaktif, Bandung:Bank Tabungan Pensiunan Negara (BTPN) akan menjajaki (roadshow) pasar Singapura dan Hongkong pada akhir tahun ini. Perjalanan itu dilakukan berkaitan dengan rencana BTPN menawarkan saham perdananya kepada publik (IPO).

Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko BTPN Taufik Hakim mengatakan, saat ini BTPN masih menunggu izin dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK). Dalam IPO itu, kata Taufik, BTPN akan melepas 28,39 persen saham yang dimiliki oleh PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA). Proses ini ditargetkan rampung sekitar Desember 2007. Selain menjual aset negara milik PPA, tujuan lainnya adalah meningkatkan citra dan kinerja perusahaan.

Direktur Utama BTPN Paulus Wiranata memperkirakan dana yang terhimpun dari penawaran saham perdana ini mencapai Rp 500 miliar. Perkiraan tersebut berdasarkan asumsi 2 kali nilai buku dari modal perusahaan Rp 1,1 triliun. "Kira-kira dana yang didapat sekitar Rp 500 miliar," kata Paulus. Menurut dia, 2 kali nilai buku itu berdasarkan nilai perbankan saat ini. "Tapi tergantung pasar."

Paulus melanjutkan, penambahan modal setelah penawaran saham bisa dilakukan dengan dua opsi yaitu merger atau akuisisi. "Kami masih ada kesempatan mengakuisisi bank dengan modal kurang dari Rp 10 triliun," katanya.

Sebagai penjamin emisi (underwriter) ditunjuk Commerce International Merchant Bankers (CIMB) dan PT BNI Securitas. "Keduanya akan menjadi lead underwriter," ujar Taufik.

Analis Finan Corfindo Nusa Edwin Sinaga memprediksi target Rp 500 miliar akan sulit tercapai. Sebab investor perbankan saat ini lebih berminat membeli saham-saham bank papan atas yang memiliki bisnis di bidang umum. "Memang kalau dari hitung-hitungan dua kali nilai buku itu murah, dibandingkan dengan nilai buku perbankan saat ini yang bisa 3-4 kali book value," katanya.

Dia juga tidak yakin investor bakal berminat menanamkan uangnya untuk perbankan kelas kecil dan menengah seperti BTPN. "Kelihatannya respon pasar tidak akan terlalu bagus," katanya.

Saat ini saham BTPN dimiliki oleh PT Perusahaan Pengelola Aset 28,39 persen, PT Recapital Advisors 22,61 persen, Fuad Hasan Masyhur 20 persen, PT Danatama Makmur 19 persen, PT Bakrie Capital Indonesia sekitar 10 persen.


SORTA TOBING I ARIYANI






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: