Harga Minyak Kembali Tembus US$ 98
Rabu, 07 November 2007 | 21:51 WIB
TEMPO Interaktif, Vienna:
Akibat menurunnya persediaan minyak Amerika Serikat, hari ini harga minyak dunia kembali menorehkan rekor di atas US$ 98 per barel.
Melemahnya kurs dollar dan keenganan negara-negara produsen minyak yang tergabung dalam OPEC untuk menambah pasokan ke pasar menjadi faktor naiknya harga minyak.
Di Eropa, harga minyak jenis light sweet untuk pengiriman Desember naik US$ 1,25 menjadi US$ 97,95 per barel setelah sebelumnya menembus harga US$ 98,62 di New York Mercantile Exchange (Nymex). Angka Nymex ini merupakan yang tertinggi sejak dimulainya perdagangan pada 1983.
Sedangkan harga minyak mentah jenis brent di London naik US$ 1,31 menjadi US$ 94,57 per barel di bursa ICE Futures.
Sejak Selasa lalu, beberapa perusahaan minyak terpaksa mengevakuasi pegawainya di Laut Utara akibat cuaca yang sangat buruk. British Petroleum PLC mengatakan akan menghentikan produksinya Kamis besok khususnya di ladang minyak dan gas Valhall. Seperti BP, Conoco Phillips juga akan mengurangi produksinya di Laut Utara.
"Sentimen pasar minyak masih tetap naik, tren di masa datang bisa mencapai level US$ 100," ujar Victor Shum, analis energi dari Purvin & Gertz Singapura seperti dilansir Tempo dari kantor berita Associated Press (AP).
"Sementara itu, kita bisa mengharapkan variasi ekstrim dimana sebagian pelaku pasar akan mengambil untung dan sisanya dalam posisi membeli kembali (buy back)."
Pelaku pasar tetap khawatir mengenai ketersediaan minyak mentah untuk memenuhi permintaan bahan bakar pemanas mendekati musim dingin di belahan bumi bagian utara. Pemberitaan mengenai serangan jaringan pipa di Yemen pada Senin lalu juga menambah kekhawatiran ini.
Departemen Energi Amerika Serikat mengumumkan bahwa pasokan minyak mentah turun sejak minggu lalu. Analis Dow Jones Newswire memprediksi, penurunan persediaan minyak rata-rata mencapai 1,6 juta barel.
Menteri Koordinator Perekonomian Boediono mengatakan pemerintah telah membuat beberapa exercise untuk menghitung pengaruh terburuk kenaikan harga minyak terhadap perekonomian Indonesia.
"Bahkan sampai harga US$ 100 per barel itu sudah dihitung apa pengaruhnya pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2007," kata Boediono di Departemen Keuangan, Rabu (7/11).
Namun, Boediono tak mau menjelaskan langkah-langkah antisipasi yang telah disiapkan pemerintah. "Saya belum bisa mengungkapkan, tapi intinya kita masih tetap dengan posisi," ujarnya.
Menurut dia kenaikan harga minyak mentah ini berpengaruh secara tak langsung pada ekspor Indonesia akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi di beberapa negara. Kendati demikian, kenaikan harga juga mendongkrak ekspor Indonesia seperti minyak sawit, batu bara, dan karet. AP | Bloomberg | Rieka Rahadiana





