|
Sektor Properti Bergerak Positif
Kamis, 08 November 2007 | 19:12 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pertumbuhan bisnis sektor properti dinilai positif hingga kuartal ketiga tahun ini. Menurut hasil riset perusahaan konsultan properti, PT Procon Indah, untuk Jakarta dan sekitarnya pertumbuhan itu terutama didongkrak subsektor perkantoran dan kondominium.
Senior Manager Strategic Advisory PT Procon Indah Utami Prastiana mengatakan pasokan perkantoran naik 5,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Tingkat okupasi naik 4,1 persen dan daya serap naik 133,4
persen.
"(Tingkat okupasi) tertinggi sejak 10 tahun terakhir," kata dia saat memaparkan hasil riset di Jakarta, hari ini. Bahkan, dia menambahkan, 70 persen pasokan kuartal keempat telah terserap (pre-commitment).
Dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, pasokan perkantoran naik 1,4 persen dengan beroperasinya Menara Prima di Mega Kuningan dengan total area 36.700 meter persegi. Total pasokan kumulatif di area Central Business District (CBD) 3,34 juta meter persegi.
Pada pasar kondominium, Utami melanjutkan, hingga kuartal ketiga peningkatan pasokan mencapai 11.152 unit. Total kumulatif pasokan mencapai 54.978 unit. Selama kuartal ketiga, 2301 unit baru diluncurkan di pasar dengan lokasi penyebaran kawasan CBD Jakarta Selatan dan Jakarta Barat.
Adapun di sektor retail, kehadiran pusat belanja Grand Indonesia Shopping Town menambah kumulatif pasokan menjadi 2,68 juta meter persegi. Pasokan baru mencapai 144 ribu meter persegi. "Dua kali lipat dibanding kuartal sebelumnya," kata Utami. Menjelang akhir 2008, pasokan bakal bertambah 0,58 juta meter persegi.
Namun, penambahan pasokan lahan tidak dijumpai pada kawasan industri. Pasokan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, juga di sekitarnya, berjumlah 7.306 hektare. Pasokan terbesar dari Bekasi, Serang, Tangerang, dan Bogor. Pasokan baru pada 2008 diperkirakan 769 hektare.
Menurut Chief Executive Officer PT Procon Indah Siswanto Widjaja, pertumbuhan properti yang positif didukung kondisi perekonomian nasional yang relatif stabil selama tahun ini. "Optimisme terhadap kondisi tecermin dari keyakinan investor sejak awal tahun," katanya.
Mengutip data Badan Koordinasi Penanaman Modal, dia menjelaskan, total nilai persetujuan investasi domestik 9 bulan terakhir mencapai Rp 146.044 triliun dari 189 proyek, lebih tinggi 70,75 persen dibanding tahun lalu. Total nilai persetujuan asing US$ 31,34 miliar, meningkat 361,90 persen.
Adapun pasar saham memperlihatkan pertumbuhan sejak kuartal sebelumnya, baik indeks harga saham gabungan (2.237) maupun indeks saham properti (230). Tingkat inflasi nasional 2,27 persen sedikit menurun dan nilai mata uang rupiah sedikit terdepresiasi dari Rp 8.968 pada Juni menjadi Rp 9.137 pada akhir September.
Hambatan pertumbuhan, Widjaja melanjutkan, terutama dari masalah subprime mortgage di Amerika Serikat dan kenaikan harga minyak dunia. "Harga produk material properti jadi naik," ucapnya.
Efek masalah itu dinilai akan terus berlanjut hingga kuartal keempat tahun ini hingga tahun depan. "Biaya konstruksi meningkat sehingga mungkin terjadi delay pada construction operation," ujarnya.
Masalah pada tahun depan juga akan bertambah dengan sentimen dari dimulainya proses pemilihan presiden. Menurut Widjaja, itu akan mempengaruhi rencana ekspansi kalangan usaha. "Mereka akan wait and see."
l Harun Mahbub
INDEKS BERITA LAINNYA :
|