Stabilitas Moneter Sangat Mahal
Selasa, 13 November 2007 | 16:30 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kalangan ekonom menilai biaya stabilitas moneter setahun terakhir sangat mahal.
Ekonom Kepala PT Bank Negara Indonesia Tbk A. Tony Prasetiantono menuturkan, stabilitas moneter saat ini lebih disokong absorbsi likuiditas bank sentral lewat Sertifikat Bank Indonesia. Hingga pekan pertama November 2007, posisi dana dalam SBI mencapai Rp 269 triliun.
"Dengan BI Rate saat ini artinya Bank Indonesia harus merogoh kocek sedikitnya Rp 20 triliun untuk membayar bunga SBI," katanya dalam seminar Prospek Ekonomi dan Moneter 2008 di Shangrilla Hotel Jakarta, Selasa (13/11).
Tony menilai jumlah likuiditas yang diserap SBI belakangan ini cukup mengkhawatirkan. Jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, rata-rata SBI berada di kisaran Rp 70 triliun.
"Sekarang ini, persoalan utama adalah menurunkan dana di SBI dan menaikkan LDR (loan to deposit ratio) pada perbankan," ujarnya.
Dia mengungkapkan, hingga saat ini LDR perbankan terus menanjak menjadi 67,3 persen.
Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Made Sukada mengatakan, upaya paling realistis guna mengurangi dana pada SBI adalah mempercepat stok surat berharga negara, yakni berupa Surat Perbendaharaan Negara (SPN). Tapi, dia mengingatkan, apabila BI melakukan pembelian SPN dalam jumlah besar sekaligus justru bakal mempengaruhi inflasi dalam negeri.
"Kalau BI beli SPN, berarti injeksi uang ke pasar dan menambah likuiditas. Padahal di pasar, likuiditas masih berlimpah. Itu bisa menyebabkan inflasi," jelasnya.
AGOENG WIJAYA





