Anggaran 2007 Dipastikan Aman

Selasa, 13 November 2007 | 22:53 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tahun 2007 aman. Menurutnya, meskipun kenaikan harga minyak memiliki dampak terhadap naiknya subsidi bahan bakar minyak dan listrik tetapi itu bisa dikompensasi dengan pos-pos anggaran yang lain.

"Meskipun harga minyak tinggi di bulan November dan Desember, APBN tetap aman dengan defisit sesuai perkiraan awal kami sebesar 1,5 persen," kata Sri Mulyani Indrawati kepada Panitia Ad hoc Bidang Anggaran dan Energi Dewan Perwakilan Daerah, di Jakarta, Selasa (13/11).

Sri Mulyani memastikan, dirinya sudah memasukkan faktor realisasi lifting minyak mentah 2007 yang diperkirakan lebih rendah dari targetnya. Realisasi itu kemungkinan hanya sebesar 910 ribu barel per hari, atau lebih rendah 40 ribu dari target APBN Perubahan 2007 sebesar 950 ribu barel per hari.

Dia mengungkapkan dari kompensasi pengimbang atas bengkaknya belanja subsidi adalah kenaikan pajak penghasilan migas, dan penerimaan negara bukan pajak migas. Disamping itu, terdapat beberapa sumber yang terkait minyak juga mendapatkan wind fall profit, yaitu naiknya laba BUMN pertamina dan tambahan dari pungutan ekspor minyak sawit (CPO), serta penghematan dan efisiensi belanja.

Secara terperinci, Menteri Keuangan menjelaskan, kenaikan harga minyak ini juga mengerek penerimaan migas sebesar Rp 31,8 triliun, dari Rp 151,2 triliun menjadi Rp 183 triliun.

Penerimaan nonmigas juga tambah Rp 300 miliar, deviden Badan Usaha Milik Negara yang terkait minyak dari pertamina naik Rp 2 triliun, dan setoran pungutan ekspor CPO naik Rp 0,5 triliun.

Namun, akibat kenaikan harga minyak mentah dunia, belanja terkait migas juga naik menjadi Rp 36,7 triliun, dari Rp 77,5 triliun menjadi Rp 114,2 triliun. Yaitu, untuk subsidi bahan bakar minyak yang membengkak Rp 32,6 triliun dari Rp 55 triliun menjadi 87,6 triliun. Itu terjadi karena tingkat konsumsi bahan bakar minyak justru membengkak dari 36 juta kiloliter menjadi 38,2 juta kiloliter.

Sementara subsidi elpiji hanya akan terealisasi Rp 125,9 miliar karena program konversi minyak tanah ke elpiji tak jalan. Konversi minyak tanah ke elpiji sepuluh persen saja, yaitu dari target 319 ribu kiloliter hanya terealisasi 36,3 ribu kilo liter. "Ini berarti konsumsi minyak tanah tidak jadi turun," ujarnya.

Subsidi listrik 2007 juga naik Rp 13,9 triliun, dari Rp 29,4 triliun menjadi 43,3 triliun. Faktor penyebab utamanya adalah konsumsi bahan bakar minyak mesin-mesin pembangkit listrik PLN ternyata masih mendominasi. Penggunaan bahan bakar minyak oleh PLN naik dari 8,8 juta kiloliter menjadi 9,4 juta kiloliter. Secara total, kata Sri Mulyani, kemungkinan dampak kenaikan minyak terhadap APBN adalah tambahan belanja sebesar Rp 6,4 triliun.

Pemerintah, kata dia, masih punya cadangan dana lainnya karena tahun 2007 ini bakal dilakukan penghematan efisiensi anggaran belanja pusat sebesar Rp 19,6 triliun. Yaitu, Rp 2,1 triliun belanja pegawai yang tak terealisasi, Rp 6,7 triliun biaya perjalanan dinas yang dipotong, Rp 5,2 triliun belanja modal yang mungkin tak terserap habis, dan Rp 300 miliar penghematan bunga utang karena percepatan pelunasan utang.

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: