Garuda “Mengeluh” Soal Angkutan Haji
Senin, 03 Desember 2007 | 00:03 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: PT Garuda Indonesia tengah menyiapkan langkah untuk menghindari kerugian dalam pengangkutan jamaah haji. Potensi kerugian itu datang dari kenaikan harga bahan bakar dan kesulitan sewa pesawat.
Direktur Operasi Garuda Ari Sapari mengatakan yang pasti maskapai milik pemerintah itu akan meningkatkan efisiensi. “Dan mencari jalan keluar bersama pemerintah," katanya kepada Tempo Kamis pekan lalu di Jakarta.
Ia menerangkan, dari aspek harga bahan bakar Garuda tak dapat membebankan biaya tambahan bakar bakar (fuel surcharge) seperti halnya penerbangan reguler. Penerbangan haji juga tak bisa ditunda atau dibatalkan. Ketepatan waktu angkutan haji tahun ini mencapai 97 persen.
Adapun dari aspek sewa pesawat, harga sewa yang ditentukan oleh lessor tahun ini naik sekitar 20 persen. Maka sulit mencari pesawat sewa yang sesuai dengan syarat Departemen Agama sulit. Hanya 5-7 lessor yang mampu menyediakan pesawat berkapasitas besar.
Untuk Airbus 330, misalnya, harus berkapasitas 325-350 penumpang dan Boeing 767 berkapasitas 325-455 penumpang. “Setiap tahun Garuda mengalokasikan US$60 juta untuk sewa pesawat haji.”
Kesulitan mencari persewaan itulah yang mendorong Garuda mengusulkan Departemen Agama membeli pesawat. Usulan disampaikan oleh Direktur Utama Garuda, Emirsyah Satar, dalam rapat dengan Komisi Perhubungan Dewan Perwakilan Rakyat, Rabu pekan lalu.
Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal mengatakan sudah mengetahui usulan Garuda itu. "Kami (bersama Menteri Agama) meminta Garuda merinci usulannya," ucap Jusman sehari kemudian di kantornya, Jakarta.
Harun Mahbub Billah





