Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Pengalihan Premium Bakal Memboroskan Anggaran
Jum'at, 07 Desember 2007 | 19:57 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Rencana pengalihkan bahan bakar minyak jenis premium oktan 88 ke bahan bakar dengan oktan 90 berpotensi memboroskan anggaran negara. Pemborosan anggaran terjadi karena adanya munculnya kecurangan dalam distribusi.

Anggota Komisi Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat Dradjad Hari Wibowo meragukan, program pemerintah tersebut akan menghemat anggaran Rp 6 triliun. Menurut dia, kecurangan akan terjadi di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), konsumen dan Pertamina. "Sangat sulit bagi negara mengawasi kecurangan tersebut. Semua orang bakal tergoda memanipulasi karena selisih keuntungannya besar skali," ujarnya, Jumat (7/12).

Dradjat mengatakan, yang terjadi justeru sebaliknya. "Anggaran menjadi boros akibat kecurangan yang terjadi. Keruwetan ini dibuat pemerintah sendiri. Bisa jadi keborosannya melebihi Rp 6 triliun," ungkapnya.

Pengalihan premium ke bahan bakar jenis lain, kata Dradjat, akan memukul kalangan pekerja sektor perkotaan. Biaya kerja mereka akan naik tinggi karena ongkos transportasinya naik. Akibatnya, biaya hidup kaum pekerjakota, kata dia, membengkak 7-12 persen. "Kalau ini terjadi, pasti akan timbul kontroversi dan menjadi isu politik luar biasa," ujarnya. Bahkan, kalangan anggota dewan bisa saja melakukan interplasi premium.

Anggota Panitia Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat Ramson Siagian menyebut kebijakan pemerintah tersebut sebagai solusi primitif yang akan mendistorsi pasar. "Sangat disayangkan, doktor-doktor ekonomi di kabinet tak cerdas membuat solusi. Kebijakan mereka justru membuat distorsi pasar makin besar," ujarnya.

Distorsi pasar tersebut, kata dia, akan menciptakan kekacauan sosial di kalangan kelas menengah, terutama perkotaan. Menurut Ramson, kebijakan itu semakin menurunkan efisiensi ekonomi, menimbulkan biaya sosial dan politik. Wilayah yang menjual premium oktan 88 akan menimbulkan antrian dan kemacetan.

Ramson memperkirakan, kebijakan pemerintah itu akan membuat masyarakat marah dan kepercayaan publik terhadap pemerintah anjlok.

Ekonom Econit Hendri Saparini menyatakan, penghematan subsidi yang dilakukan pemerintah melalui program pengalihan premium lebih sedikit dibandingkan kerugian ekonomi. Dia mencontohkan, jika kendaraan diharuskan menggunakan bahan bakar oktan 90, maka pelaku usaha kecil pengguna kendaraan akan terpukul.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, pengalihan premium bersubsidi ke jenis lain akan dilakukan di seluruh Indonesia. "Bukan hanya di DKI Jakarta, tapi karena pengguna kendaraan terbesar maka Jakarta yang pertama," katanya.

Kalla mengatakan, rencana pengalihan premium untuk mengurangi subsidi. "Presiden minta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dan Pertamina lakukan penghitungan dan cara pengurangan subsidi," ujarnya.

Menteri Koordinator Perekonomian Boediono kembali menegaskan, pemerintah tak akan menaikkan harga bahan bakar minyak. Yang dilakukan pemerintah, kata dia, memperbaiki distribusi agar sesuai sasaran.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Ari H. Soermarno mengatakan, pihaknya akan melakukan program pengalihan premium secara bertahap. Menurut dia, pengalihan akan dimulai di kota-kota besar dan kemudian ke kota lainnya.

AGUS SUPRIYANTO | GUNANTO | SUTARTO | NIEKE


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk113140 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

BLT Bojonegoro Dicairkan Besok
Pasangan Karsa Unggul di Jombang
Gubernur Tak Percayai Hasil Quick Count
Kasus Alih Kawasan BSD Diselidiki
Dada Janji Bangun Stadion Persib

<< December,2007>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data