Perbankan Diminta Segera Turunkan Bunga Kredit
Sabtu, 08 Desember 2007 | 02:04 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kalangan pengusaha meminta perbankan segera menurunkan suku bunga kredit yang masih terlalu tinggi untuk dijangkau sektor riil. Padahal bank sentral sudah terus menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) hingga menjadi 8 persen.
"Sektor industri berpotensi terus tumbuh karena penurunan BI Rate. Tapi syaratnya suku bunga kredit harus lebih compete (bersaing)," ujar Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia M.S. Hidayat kepada Tempo di Jakarta kemarin.
Dia mengatakan bunga pinjaman dari bank pemerintah saat ini berkisar 13 persen, sedangkan dari bank swasta 15 persen. Selisih antara suku bunga kredit dan BI Rate ini dinilai masih terlalu tinggi dari angka ideal 3,5-4 persen.
"Ini menunjukkan perbankan masih pasif, konservatif, dan tidak mau ambil risiko. Padahal seharusnya langkah BI yang progresif terus menurunkan suku bunga diikuti kalangan perbankan," ucapnya.
Hidayat memastikan industri manufaktur masih tetap potensial tumbuh kendati belakangan terjadi lonjakan harga minyak mentah. "Masalah minyak mentah itu kan unpredictable dan dialami semua negara. Mau tidak mau kita memang harus melakukan efisiensi," ujarnya.
Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia Bambang Trisulo menuturkan penurunan BI Rate cukup mengkompensasi kenaikan biaya-biaya produksi. Langkah bank sentral itu menunjukkan laju inflasi semakin terkendali dan nilai tukar rupiah stabil. "Kedua hal inilah yang menjadi ukuran utama dalam pertumbuhan industri mobil," tuturnya.
Ia memperkirakan dampak langsung penurunan BI Rate baru akan terasa oleh industri tahun depan. Sebab, bank butuh waktu untuk menyesuaikan penurunan bunga dari bank sentral. "Tapi dampaknya pasti positif," ujarnya.
Secara terpisah, Senior Vice President Standard Chartered Bank Fauzi Ikhsan mengungkapkan respons bank terhadap penurunan BI Rate masih menunggu perkembangan suku bunga dan pasar internasional tahun depan. "Penyesuaian suku bunga baru mungkin dilakukan pada triwulan kedua 2008," katanya.
Menurut dia, meski suku bunga acuan BI Rate turun 25 basis poin menjadi 8 persen, indikator ekonomi dalam negeri lainnya, seperti inflasi dan nilai tukar rupiah, belum bisa dipastikan. Belum lagi bank sentral Amerika Serikat belum mengeluarkan reference rate-nya.
"Perbankan pasti menurunkan bunga kredit jika BI Rate, The Fed Rate, inflasi, dan nilai tukar rupiah turun," ujarnya.
Wakil Presiden Direktur PT Bank Panin Tbk. Roosniati Salihin bahkan menilai penurunan BI Rate pekan ini belum banyak berpengaruh terhadap penyesuaian bunga kredit.
"Tapi, yang penting, kan, sektor riilnya bergerak. Dengan sendirinya suku bunga menyesuaikan," tuturnya.
Hal senada dilontarkan Direktur Utama Bank DKI Winny E. Hasan. "Akhir tahun ini belum akan kami sesuaikan karena sulit memprediksi perkembangan pasar," tuturnya.
l RR ARIYANI | AGOENG WIJAYA





