Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Kebijakan Energi Pemerintah Dinilai Tak Konsisten
Sabtu, 08 Desember 2007 | 20:02 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pengamat perminyakan Kurtubi menilai pemerintah tak konsisten melaksanakan kebijakan energi nasional. Pernyataan itu disampaikan Kurtubi mengomentari rencana pengalihan bahan bakar minyak jenis premium oktan 88 ke bahan bakar oktan 90 (pertamax).

"Program pemerintah yang akan dorong masyarakat menggunakan oktan 90 meningggalkan premium (oktan 88) merupakan kegiatan yang tidak konsisten dan jalan di tempat. Pemerintah tak punya pandangan jauh ke depan," kata Kurtubi kepada Tempo di Jakarta Sabtu, (10/12).

Selain itu, perpindahan dari oktan 88 ke oktan 90 ataupun yang lainnya justru membuat ketergantungan Indonesia terhadap impor makin besar. Alasannya, imbuh Kurtubi, High Octane Mogas Componen (HOMC) yang merupakan bahan campuran untuk meningkatkan oktan premium itu masih diimpor seluruhnya.

Perpindahan dari bahan bakar minyak ke bahan bakar minyak tak sejalan dengan kebijakan energi dunia di mana di situ disebutkan bahwa kebijakan energi yang diinginkan adalah diversifikasi energi. "Yang jadi acuan dunia adalah mengganti minyak ke nonminyak. Kalau dari minyak ke bahan bakar gas, itu baru diversifikasi," ujarnya.

Selain menghemat anggaran karena lebih murah dan cadangannya melimpah, lanjut Kurtubi, bahan bakar gas lebih ramah lingkungan karena emisi karbon lebih rendah. Program diversifikasi energi, kata dia, sudah lama diperkenalkan. Hanya saja pelaksanaannya belum optimal, karenanya saat ini menjadi momentum yang tepat bagi pemerintah untuk mendorong percepatan diversifikasi energi ini.

Kurtubi mengatakan, rencana pengalihan ke oktan 90 itu merupakan usulan yang panik karena tak punya solusi jelas menghadapi kenaikan harga minyak dan pembengkakan konsumsi premium. Sebenarnya, kata Kurtubi, kalau tujuannya untuk mengurangi beban subsidi bahan bakar minyak maka pemerintah bisa merevisi kembali patokan perhitungan subsidi bahan bakar minyak.

Cara kedua, adalah meningkatkan penerimaan negara dari pajak windfall minyak mentah yang diproduksi kontraktor production sharing (KPS). Misalnya, kata Kurtubi, kalau harga minyak dunia tembus US$ 80 per barel maka pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat bisa bersepakat mengenakan tambahan potongan pajak penghasilan ke KPS. Pengenaan pajak tambahan itu bukan barang aneh karena sudah biasa diterapkan di Amerika Serikat maupun Inggris. "Dengan begitu tak ada beban ke masyarakat dan duit langsung mengucur ke APBN," kata Kurtubi.

AGUS SUPRIYANTO


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Penyelundupan Minyak Bersubsidi Mulai Terjadi
BPH Migas Usulkan Mekanisme Batasi BBM Bersubsidi
Angkatan Laut Tangkap Penyelundupan Solar
Pertamina Tambah Pasokan Premium di Banten
Universitas Sebelas Maret Kembangkan Bahan Bakar dari Oli Bekas
Gas dan Minyak Tanah di Jatim Cukup Untuk Lebaran, Natal dan Tahun Baru
Uji Coba Pertama Jatropha 100 Persen
BBM Alternatif dari Kelapa
2.200 Kartu Kompensasi BBM Dibatalkan
Banggai Langka Bahan Bakar
> selengkapnya...

Referensi

Inpres No. 5 Tahun 2000 tentang Koordinasi Penanggulangan Masalah Penyalahgunaan Pada Penyediaan dan Pelayanan Bahan Bakar Minyak.
Keppres No. 86/2002 tentang Badan Pengatur Penyediaan dan Pendistribusian BBM
Keputusan Gubernur DKI No. 1219/2003 tentang Pembentukan Tim Koordinasi UPMP-BBMT

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk113169 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Panwas Protes KPU Jawa Timur
Korban Lumpur Lapindo Banyak Yang Belum Ambil Bantuan Presiden
Ibu Tewas Tertabrak Bus Transjakarta
Kejaksaan Sudah Periksa 7 Orang
Tersangka Bom Ikan Ditangkap

<< December,2007>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data