|
PLN Desak Pengusaha Gunakan Genset
Rabu, 12 Desember 2007 | 04:45 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Manajemen PT PLN (Persero) mendesak kalangan industri beralih menggunakan genset dari sambungan listrik PLN. Jika industri tetap menolak menggunakan genset maka sebagian wilayah Jakarta akan padam.
General Manager PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang Fahmi Mochtar mengatakan, pihaknya meminta industri yang memiliki genset untuk menggunakannya. "Penggunaan genset pada saat beban puncak saja," ujarnya, Selasa (11/12). Menurut dia, dengan menggunakan mesin listrik sendiri pasokan listrik tak akan kelebihan beban.
Fahmi menjelaskan, selama satu bulan terakhir beban puncak listrik mengalami kenaikan akibat pengalihan listrik industri dari genset ke sambungan PLN. Pengalihan tersebut akibat kenaikan harga bahan bakar minyak industri dan menambah beban listrik PLN sebanyak 300 megawatt (MW).
Untuk mengatasi tersebut, kata Fahmi, PLN mempertimbangkan pemberlakuan tarif listrik daya maksimum atau dayamax plus pada siang hari. Pelanggan industri akan dikenakan disinsentif jika menggunakan lebih dari 50 persen daya terpasang. Sebaliknya akan diberikan insentif jika kurang dari 50 persen.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Muhamad S. Hidayat menyatakan menolak permintaan PLN tersebut. "Kalau benar PLN meminta kami beralih ke genset, kami keberatan," ujarnya kepada Tempo.
Menurut dia, industri terus-menerus terbebani dengan melonjaknya ongkos produksi akibat kenaikan bahan bakar minyak tiap dua minggu. Selain itu masih ditambah kenaikan harga bahan baku dan lainnya. "Dan kami sudah dikenai tarif multiguna dan aturan dayamax. Kenapa kami juga yang harus dikorbankan," ujarnya.
Selain biaya yang harus dikeluarkan pengusaha untuk beralih ke genset dinilai cukup besar, ia menilai kapasitas genset itu pun tidak memadai. Biaya genset itu dua kali lipat dari ongkos listrik PLN.
Ketua Asosiasi Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia Krishnadi juga menyatakan hal yang sama. Menurut dia, penggunaan genset pada saat ini sulit direalisasikan. "Sekarang kondisi lagi sulit, uang dari mana untuk investasi genset apalagi harga solar naik terus," ujarnya. Saat ini, kata dia,biaya listrik pengusaha hotel dan restoran membengkak dari 12 persen menjadi 17-20 persen.
NIEKE INDRIETA | RR ARIYANI
INDEKS BERITA LAINNYA :
|