Mengukur Prospek Saham Astra
Senin, 17 Desember 2007 | 03:19 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Tren penurunan suku bunga kredit yang diembuskan bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve), menurut kalangan analis akan berdampak positif terhadap pergerakan saham PT Astra International Tbk.,
Adapun, rencananya kenaikan harga jual mobil tahun depan, dinilai tidak akan banyak mempengaruhi pergerakan saham perusahaan otomotif terbesar di Indonesia ini.
"Penurunan suku bunga The Fed, secara umum bagi Astra akan lebih menguntungkan," kata analis saham dari PT BNI Securities Tbk., M. Alfatih, kepada Tempo akhir pekan lalu.
Menurut dia, selama ini lebih banyak orang membeli mobil dengan cara kredit melalui perusahaan pembiayaan. Sehingga penurunan suku bunga yang akan diikuti dengan penurunan bunga kredit akan mempengaruhi minat beli. "Apalagi pertumbuhan ekonomi tahun depan diperkirakan cukup tinggi," ujar nya.
Secara teknikal, Alfatih memperkirakan saham Astra bisa mencapai kisaran harga Rp 30 ribu per saham. "Secara jangka panjang dan pendek sama saja," ujarnya.
Analis PT Optima Investama Ikhsan Binarto memperkirakan saham Astra akan bagus untuk jangka panjang. Ia memprediksi saham Astra dalam kurun waktu 12 bulan mampu mencapai kisaran harga Rp 30 ribu-32 ribu . "Untuk jangka pendek ada kemungkinan turun ke level Rp 26 ribu," katanya.
Namun begitu, Ikhsan mengingatkan Astra akan terpengaruh rencana pemerintah untuk membatasi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) premium bersubsidi. "Otomotif rentan dengan rencana pembatasan penggunaan BBM, itu bisa jadi sentimen negatif," katanya.
Dia mengatakan pengurangan beban subsidi BBM akibat melonjaknya harga minyak dunia tersebut juga akan memicu kenaikan harga bahan baku yang dapat memukul industri otomotif Astra. "Karena revenue Astra yang utama masih di otomotif, dan imbasnya baru terasa tahun depan," ungkapnya.
Namun, menurut Alfatih rencana pengurangan beban subsidi BBM hanya akan berpengaruh sedikit. Karena secara fundamental Astra memiliki prospek baik untuk jangka menengah dan panjang.
Pada pembukaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Jumat (14/12) lalu, saham Astra menguat sebesar Rp 50, dari harga penutupan Kamis (13/12) Rp 27.450 menjadi Rp 27.500. Namun, pada penutupan perdagangan, saham ini terkoreksi hingga ke level harga Rp 27.300, walaupun sempat mencapai harga tertinggi Rp 27.800.
Ikhsan pun merekomendasikan hold terhadap saham perusahaan raksasa otomotif ini. Adapun Alfatih memberi rekomendasi buy on weakness.
WAHYUDIN FAHMI





