Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekspor Indonesia Akan Meningkat
Senin, 17 Desember 2007 | 17:35 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Koordinator Tim Kajian Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latif Adam mengatakan ekspor Indonesia akan mencapai US$ 103,5 miliar pada 2008 lebih tinggi dari pendapatan ekspor tahun 2007 sebesar US$ 97,1 miliar.

"Dengan catatan Indonesia mampu memperluas negara tujuan ekspor dan tidak tergantung pada Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang," kata Latif di gedung LIPI Jakarta, Senin (17/12).

Dia menjelaskan bahwa kenaikan harga komoditas primer seperti sawit, karet, dan barang tambang menjadi pendorong terjadinya kenaikan penerimaan ekspor Indonesia.

Menurut Latif, peningkatan pendapatan ekspor itu membuat surplus perdagangan Indonesia tahun depan akan mencapai US$ 10,5 miliar. Pasalnya impor pada 2008 diperkirakan sebesar US$ 92,7 miliar dengan komposisi impor terbesar berasal dari barang konsumsi dan barang modal.

LIPI meminta pemerintah mulai memperhatikan kemungkinan penurunan daya saing sektor industri yang selama ini memberi sumbangan besar kepada struktur ekspor Indonesia seperti tekstil dan garmen. Untuk itu, pemerintah harus mendorong peremajaan teknologi yang digunakan dalam industri tersebut untuk meningkatkan produktifitas agar sumbangan ekspor industri itu bisa dipertahankan bahkan meningkat.

Latif melanjutkan, terlambatnya restrukturisasi permesinan di industri Indonesia selain membuat produktifitas menurun, juga lebih boros dalam pemakaian energi. "Mesin yang digunakan di industri (Indonesia) lebih boros 17 persen dari mesin yang digunakan negara lain untuk jenis industri yang sama," ujarnya.

Akibatnya, ongkos produksi yang dibutuhkan lebih besar sehingga harga jual produk menjadi mahal. "Daya saing pun turun, karena kualitas dan harga tidak sesuai, apalagi ada kenaikan harga minyak yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi global," katanya.

Pemerintah juga perlu membenahi regulasi daerah yang tidak mendukung pertumbuhan bisnis. Dia mencontohkan, ada daerah yang mengenakan pajak untuk penggunaan generator sebagai pembangkit listrik untuk operasional pabrik. Padahal penggunaan generator itu untuk mensiasati kurangnya pasokan listrik dari PT PLN. "Regulasi itu sangat aneh dan bisa menyebabkan biaya produksi membengkak, peraturan-peraturan itu harus diperbaiki karena jumlah regulasi seperti itu jumlahnya mencapai ribuan," ujar dia.

l Eko Nopiansyah


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Pemerintah Alihkan Pasar Ekspor ke Asia
Pertumbuhan Ekspor ke Eropa Dipatok 12 Persen
Transaksi Pameran Ekspor Belum Mencapai Target
Bea Cukai Audit Eksportir-Importir
Negara Tujuan Ekspor Akan Diperluas
Layanan Ekspor Impor Aktif Kembali 16 Oktober
Kegiatan Ekspor Impor Normal

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk113709 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Omset Bisnis Esek-esek di Internet US$ 3 Juta Per Detik
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa
Pemakaman di Hari Kelahiran

<< December,2007>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data