Pengalihan Premium Dinilai Tak Terlalu Pengaruhi Inflasi

Kamis, 20 Desember 2007 | 17:28 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Kordinator Perekonomian Boediono menilai pengalihan premium beroktan 88 ke premium berkotan 90 tidak akan berpengaruh besar terhadap inflasi tahun depan. Kenaikan harga bahan pangan justru akan berpengaruh besar dibanding pengalihan bahan bakar. "Kalau mau mempertahankan inflasi itu kuncinya (kestabilan harga bahan pangan)," katanya sebebelum rapat kordinasi mengenai privatisasi BUMN di kantornya, Rabu (19/12).

Pengalihan premium, menurut dia, hanyalah salah satu item yang akan mempengaruhi inflasi. "Yang saya bayangkan justru harga bahan pangan naik dan akan berdampak kepada kita," katanya.

Oleh sebab itu, pemerintah akan memperlancar arus barang untuk kelancaran distribusi bahan pangan. "Arus barang sering terganggu. Jadi masalah infrastruktur juga jadi kuncinya," tambah Boediono.

Jika, Menteri Boediono khawatir kenaikan harga bahan pangan akan meningkatkan inflasi, Menteri Pertanian Anton Apriantono justru gembira harga bahan pangan meningkat. "Kapan petani dapat harga setinggi itu," katanya ditemui seusai rapat kordinasi di kantor Menteri Kordinator Perekonomian.

Anton menegaskan akan terus melakukan terobosan untuk meningkatkan produksi. Tahun ini, kata Dia, produksi beras naik 4,8 persen dan jagung naik 14,4 persen. "Ini akan terus kita lanjutkan," katanya.

Selain melalui perluasan lahan pemerintah juga akan terus meningkatan produktivitas. Menteri Anton menyatakan tahun depan produksi beras ditargetkan meningkat 5 persen dan jagung meningkat 20 persen. Anton juga optimis target tahun ini produksi beras sebesar 58,1 juta ton tercapai.

Dalam beberapa bulan terakhir harga bahan pangan meningkat. Kenaikan harga bahan pangan diprediksi akan terus meningkat. Selain karena meningkatnya kebutuhan pangan, bahan pangan juga sebagian dialihkan untuk kebutuhan energi.

Gunanto E S






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: