|
Faisal Basri: Data Kemiskinan Yudhoyono dan Wiranto Ngawur
Kamis, 27 Desember 2007 | 20:00 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pengamat ekonomi Faisal Basri menilai perdebatan data statistik kemiskinan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Ketua Umum Partai Hanura Wiranto sia-sia. "Data keduanya tidak ada yang benar," katanya, dalam refleksi akhir tahun, di Sekretariat Gerakan Pemuda Ansor, Jakarta, Kamis (27/12).
Faisal menyebut, beberapa waktu lalu, Yudhoyono menyatakan jumlah orang miskin dan pengangguran berkurang. Pernyataan itu diambil dari data Badan Pusat Statistik. Sementara itu, Wiranto justru menyatakan jumlah orang miskin dan penganggur bertambah. "Wiranto mengambil data dari Bank Dunia dan Bank Dunia datanya dari BPS. Jadi sama saja," katanya.
Perdebatan data kemiskinan dan pengangguran, lanjut dia, justru membuat pemerintah semakin jauh dari substansi penanganan kemiskinan dan pengangguran. Kebijakan ekonomi yang diterapkan pemerintah juga dinilai tidak berpihak pada masyarakat bawah. "Substansi kemiskinan tidak pernah dijamah," kata Faisal.
Sebelumnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan jumlah orang miskin pada 2007 hanya 16,5 persen, jauh lebih rendah dari jumlah orang miskin pada 1998 sebesar 24,2 persen. Namun klaim presiden berhasil menurunkan angka kemiskinan dibantah Wiranto melalui iklan layanan di media elektronik. Dalam iklan layanan masyarakat tersebut, Wiranto menyebutkan tingkat kemiskinan saat ini justru mencapai 49,5 persen.
Perbedaan data jumlah kemiskinan tersebut, menurut Faisal, karena keduanya merujuk pada sumber yang berbeda. Presiden merujuk data Badan Pusat Statistik sedangkan Wiranto merujuk pada data Bank Dunia. "Dua-duanya ngawur," katanya.
Dwi Riyanto Agustiar
INDEKS BERITA LAINNYA :
|