|
Banjir Mulai Menggenagi Kota Bojonegoro
Sabtu, 29 Desember 2007 | 11:58 WIB
TEMPO Interaktif, Bojonegoro:Bencana banjir akibat luapan sungai Bengawan Solo mulai mengancam kota Bojonegoro. Sabtu pagi ini warga kota mulai disibukkan menyelamatkan barang-barang agar tidak terendam air.
Joni Surharyanto juru bicara Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, mengatakan bahwa kota Bojonegoro mulai terendam, karena tanggul-tanggul yang dibangun di beberapa titik untuk menghadang luapan air Bengawan Solo, banyak yang jebol.
Jebolnya tanggul karena dibobol warga untuk memudahkan akses masuk ke pemukiman mereka. Pada bagian-bagian tanggul yang jebol itulah air mengalir masuk menggenangi kota. Sudah diupayakan ditutup dengan karung berisi pasir serta batu. Tapi karena derasnya aliran alir, upaya penutupan itupun tak membuahkan hasil.
Kota Bojonegoro, terutama di daerah-daerah tepian Bengawan Solo, sebenarnya sudah mulai digenangi air sejak kemarin. Kelurahan Ledok Kulon dan Kelurahan Ledok Wetan, digenangi air setinggi 50 cm. Demikian juga dengan Kelurahan Jetak, Klangon, dan desa Pacul.
Amin Fauzi, seorang warga kota Bojonegoro, ketika dihubungi TEMPO menjelaskan, pusat kota Bojonegoro mulai digenangi air Jum'at, jam 24.00 WIB. "Saat itu air mengalir menyeberangi Jl. Mastrip," katanya. Alun-alun kota sebelah baratpun mulai tergenang.
Ketinggian air di kota Bojonegoro bervariasi. Di kawasan Jl. Panglima Polim, lokasi rumah kontrakan Amin Fauzi, air sudah setinggi 20 cm, dan terus meninggi. "Cuaca kota Bojonegoro saat ini sebenarnya cerah. Tapi genangan air terus naik," katanya ketika dihubungi pada jam 09.30 WIB. Ia juga mengatakan, di kawasan yang rendah genangan diatas 50 cm, sedangkan kawasan yang lebih tinggi genangannya 30 cm. Amin dan keluarganya mengungsi ke rumah orang tuanya di kecamatan Balen yang hinga saat ini masih aman dari genangan.
Air juga sudah menggenangi kawasan Jl. Untung Surapati, Jl. Diponegoro, Jl. Panglima Sudirman, Jl. Jaksa Agung Suprapto, hingga Jl. Mayangkara.
Amin Fauzi mengatakan banjir kali ini jauh lebih parah dibandingkan yang terjadi tahun 1993. Ia juga mengatakan sejak tahun 1993, kota Bojonegoro tak pernah terkena bencana banjir. Apalagi setelah dibangunnya tanggul-tanggul penahan air. ''Mungkin karena merasa tak pernah kena banjir, warga menjebol tanggul agar lebih mudah dan dekat masuk ke lokasi rumahnya,'' kata Amin Fauzi sembari mengatakan penjebolan tanggul oleh warga sudah dilakukan beberapa tahun lalu.
Jalil Hakim
INDEKS BERITA LAINNYA :
|