Harga Minyak Sentuh Batas Kritis US$ 100
Jum'at, 04 Januari 2008 | 04:47 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Harga minyak mentah dunia untuk pertama kali dalam sejarah mendekati US$ 100 per barel pada perdagangan Kamis (3/1). Harga minyak diperkirakan akan berada pada level kritis pada beberapa pekan mendatang.
Pada perdagangan di bursa di New York kemarin harga minyak ditutup naik US$ 3,64 menjadi US$ 99,62 per barel. Sedangkan harga minyak Laut Utara Brent di bursa London diperdagangkan sebesar US$ 97,84. Harga perdagangan kemarin lebih tinggi dibandingkan rekor harga minyak pada 2007 sebesar US$ 99,29 pada 21 November lalu. Demikian berita yang dilansir dari Kantor Berita AFP, Kamis (3/1).
Kalangan analis menilai, lonjakan harga minyak pada awal 2008 dipicu masalah geopolitik dan perekonomian dunia. Kerusuhan yang terjadi di Negeri menjadi salah penyebab kenaikan harga minyak. Nigeria merupakan salah satu produsen minyak dunia dengan total produksi sekitar 2 juta barel per hari.
Harga minyak diperkirakan akan terus melonjak hingga lebih US$ 100 per barel menyusul anjloknya stok minyak Amerika Serikat. Persediaan minyak negara itu diperkirakan anjlok 3,3 juta barel menjadi 293,6 juta barel pada akhir Desember 2007. Amerika merupakan konsumen terbesar minyak dunia.
Terkait kenaikan harga minyak mentah dunia, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, pemerintah sedang mengkaji kemungkinan defisit anggaran yang bisa ditoleransi dari dampak kenaikan harga minyak. Kajian akan digunakan untuk menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP).
Menurut Sri Mulyani, pemerintah terus memantau pergerakan harga minyak dunia untuk mengetahui pola kenaikan untuk menyiapkan antisipasi jangka panjang. "Saya tidak membuat respon berdasarkan gejolak harian," ujarnya, Kamis (3/1).
Dia menjelaskan, tak ada satu pihakpun yang mampu menjelaskan gejolak harga minyak dunia. "Kami pernah mengantisipasi gejolak harga mulai dari US$ 60, 70, 80, 90, dan 100 per barel. Pada tahun ini kami akan lihat polanya dulu untuk menyiapkan langkah kontigensi," katanya. Pemerintah menetapkan asumsi harga minyak mentah sebesar US$ 60 per barel pada APBN 2008.
Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, pemerintah siap menghadapi pengaruh harga minyak pada level US$ 100 per barel. Menurut dia, kenaikan harga minyak lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal. "APBN tak menjadi masalah, kalau subsidi naik pendapatan juga naik," katanya.
Gubernur OPEC (Organisasi Negara Pengekspor Minyak) untuk Indonesia, Maizar Rahman mengatakan, kenaikan harga minyak akibat ulah spekulan. Menurut dia, lonjakan harga kali ini karena tingginya kegiatan pelaku pasar uang bermain di bursa minyak.
Menurut dia, OPEC akan menggelar pertemuan pada 1 Februari di Wina Austria untuk membahas kenaikan harga minyak. Maizar mengatakan, kenaikan harga akan berdampak kepada ekonomi dunia. "Negara berkembang pengimportir minyak yang bakal terkena dampaknya dan akan merembet pelemahan impor barang dari negara industri," ujarnya. Akibatnya ekonomi dunia pun akan terpengaruh.
Maizar memperkirakan konsumsi masyarakat dunia terhadap minyak akan melemah pada level harga minyak tertentu. "Belum pasti pada harga berapa konsumsi akan melemah, tapi jelas tidak jauh lagi," katanya.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Luluk Sumiarso mengatakan, pengalihan bahan bakar jenis premium ke oktan 90 akan dilakukan jika harga minyak mentah Indonesia US$ 100 per barel. Sampai saat ini minyak mentah Indonesia belum menyentuh US$ 100 per barel. Harga rata-rata minyak dari Indonesia sekitar US$ 91,54 turun US$ 0,56 dari US$ 92,10 per barel pada November 2007. "Bulan lalu sekitar US$ 91 per barel," katanya.
ALI | EKO NOPIANSYAH | SUTARTO | NIEKE INDRIETTA





