Pemerintah Turunkan Bea Masuk Kedelai
Selasa, 15 Januari 2008 | 04:09 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah akan menurunkan bea masuk kacang kedelai dari 10 persen menjadi nol persen. Penghapusan tersebut untuk mengurangi lonjakan harga kedelai dunia dan membantu industri makanan tahu dan tempe.
Harga kacang kedelai dunia naik dari US$ 300 per ton menjadi US$ 600 per ton. Kenaikan harga tersebut menyebabkan harga kedelai dalam negeri melonjak dari Rp 3.000 per kilogram menjadi Rp 6.000-8.000 per kilogram. Akibatnya lonjakan harga tersebut, industri makanan tahu-tempe tak mampu berproduksi.
Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, pemerintak akan mengkaji semua opsi untuk meringankan dampak tingginya harga kedelai dunia. Opsi tersebut antara lain, penghapusan bea masuk impor kedelai menjadi nol persen dari 10 persen. Dengan opsi ini, diharapkan porsi impor kedelai bisa ditingkatkan untuk konsumsi dalam negeri. "Saya minta pegangan untuk menghilangkan bea masuknya," ujarnya, Senin (14/1).
Opsi lainnya, kata Kalla, Perusahaan Umum Bulog diminta untuk mengatur perihal impor kedelai dengan melihat harga yang paling murah. Namun, menurut dia, pemerintah tak bisa menurunkan harga kedelai ke posisi normal jika harga kedelai dunia masih tinggi.
Kalla mengatakan, pemerintah tak bisa memakai patokan harga eceran tertinggi karena sebagai besar kedelai masih impor. "Kebutuhan dalam negeri dua juta ton per tahun, sedangan produksi dalam negeri hanya 650 ribu ton," ujarnya.
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, pemerintah akan menghilangkan hambatan impor kedelai. Penurunan bea masuk, kata dia, bergantung pada kenaikan harga kedelai di pasar internasional. "Kalau harganya turun, tentunya bea masuk akan diterapkan kembali," katanya.
Pemerintah, kata dia, akan terus mengevaluasi kemungkinan bea masuk nol persen tersebut. Menurut Mari, upaya penyeimbangan harga ini akan memberi insentif yang cukup kepada petani. Selain itu, pemerintah juga akan meningkatkan produksi kedelai dalam negeri.
Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi mengatakan, tidak ada mafia importir yang menyebabkan lonjakan harga kedelai dalam negeri. "Tidak ada mafia itu. Yang ada mafia perdagangan," katanya.
Menurut Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengatakan, target produksi pertanian 2008 akan naik 20 persen dibandingkan produksi 2007. "Tapi kami yakin bisa lebih dari itu, sekitar 850 ribu ton," katanya.
Dia mengatakan, kenaikan harga kacang kedelai akan mendorong petani untuk menanam. "Kalau kedelai harganya sangat murah siapa yang mau bertani," ujarnya.
Pada tahun lalu, kata Anton, petani memilih untuk menanam jagung karena menguntungkan. "Harganya lebih baik," katanya. Harga yang merangsang petani untuk menanam kedelai sebesar Rp 4.500 per kilogram.
Menurut Anton, pemerintah akan membagikan benih kedelai untuk menaikan produksi komoditas itu. Selain itu, distribusi pupuk dan teknologi pertanian serta penyuluhan akan ditingkatkan. "Tapi yang paling penting dari semua itu adalah stabilisasi harga," katanya.
Mengenai penerapan bea masuk impor kedelai hingga nol persen, Anton mengatakan masih akan menunggu perubahan harga di luar negeri dan perhitungan koordinasi dengan instansi terkait. "Menunggu finalisasi dari Menteri Keuangan," katanya.
Pengamat ekonomi pertanian Fadhil Hasan menilai, opsi penurunan bea masuk tetap harus diikuti program revitalisasi pertanian. "Sebab, kenaikan harga produk seharusnya menjadi insentif pertanian, harusnya ada terobosan untuk tingkatkan produksi," katanya. Menurut dia, pemerintah perlu mempertimbangkan Bulog untuk ikut menstabilkan harga kedelai.
Ribuan pedagang tahu-tempe, kemarin, mendatangi Istana Presiden di Jalan Medan Merdeka Utara menuntut pemerintah turun tangan menurunkan harga kedelai. Selain penurunan harga para pedagang juga menuntut stabilisasi harga kedelai.
ANTON APRIYANTO | RR ARIYANI | SORTA TOBING | GABRIEL WAHYU T | WAHYUDIN FAHMI




Komentar Anda :