Wapres :Sulit Tingkatkan Produksi Kedelai Indonesia
Selasa, 15 Januari 2008 | 12:18 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan dalam kondisi sekarang susah untuk meningkatkan produksi kedelai di Indonesia. Petani lebih memilih menanam jagung yang pendapatannya jauh lebih besar.
"Jadi memang susah kembangkan kedelai di indonesia.," kata Kalla saat berbincang-bincang dengan Menteri Pertanian Anton Apriantono di Lobi Gedung Departemen Pertanian sebelum memulai Rapat Terbatas di Departemen Pertanian Selasa (15/1).
Pada rapat terbatas ini, hadir juga Menteri Koordinator Perekonomian Boediono, Menteri Negara Perencanaan Pembagunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Negara BUMN Fahmi Idris, Diretur Utama Bulog Mustafa Abubakar, dan Kepala Badan Pusat Statistik (BPK) Rusman Heriawan dan Kepala BMG Sri Woro B Hardjono. Presiden memimpin langsung rapat terbatas ini.
Dari hitungan Menteri Pertanian, kata Kalla, satu hektar kedelai hanya mampu menghasilkan pendapatan kotor sebesar Rp 8 juta dengan biaya produksi Rp 4 sampai 5 juta."Petani hanya dapat Rp 3,5 jutaan lah," kata dia.
Sedangkan jika menanam jangung dengan produksi minimal 6 ton petani dengan menggunakan harga lama bisa menghasilkan pendapatan kotor sebesar Rp 12 juta. Sedangkan biaya produksinya sama dengan kedelai. "Jadi pendapatan bersih dengan menanam jagung sekitar Rp 8 juta,apalagi sekarang harganya jagung naik dua sampai tiga kali lipat," kata dia.
Menurut Menteri Pertanian Anton Apriyantono, meskipun kedelai ditingkatkan produksinya namun dihitung dari ongkos produksi tetap tidak bisa menyaingi jagung. Terlebih lagi dengan adanya kenaikan harga jagung."Dengan harga lama saja selisihnya perha, pendapatan kotornya mencapai Rp 8 juta," ujar Anton.
Animo petani, ujar Anton,akan lebih cenderung memilih menanam jagung ketimbang kedelai. Terlebih lagi jika biaya produksi Per ha sama dengan penghasilan jagung lebih tinggi dan harga jagung juga naikknya lebih tinggi.
Anton Apriato




Komentar Anda :