Pertumbuhan Industri Terjerat Siklus Pemilihan Umum

Selasa, 15 Januari 2008 | 16:41 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pertumbuhan industri tanah air terperangkap siklus pemilihan umum (pemilu). Menjelang dua tahun sebelum pemilu, pertumbuhan industri akan tumbuh melesat. Namun, setelah melalui masa pemilihan umum dan terbentuknya pemerintahan baru, pertumbuhan industri kembali melambat.

Menurut peneliti senior dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Ari Kuncoro, siklus pertumbuhan industri yang mengikuti alur pemilihan umum berlaku sejak pasca krisis dan berlanjut pada masa pemilu 1999 dan 2004.

Pada masa dua tahun menjelang pemilu, belanja politik dan pemerintah akan mendongkrak pertumbuhan industri. Belanja pemerintah lewat proyek-proyek infrastruktur, listrik, transportasi akan meningkat drastis karena pemerintah yang berkuasa hendak memberikan kesan kepada masyarakat pemilih.

"Tahun 2008-2009 pertumbuhan industri bisa terdongkrak hingga melewati pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Ari dalam seminar nasional Peningkatan Produktifitas dan Efisiensi dalam Industri Manufaktur kerjasama Majalah Tempo , Koran Tempo dan PT Lintasarta di Gran Melia, Jakarta (15/1).

Menurut Ari, pertumbuhan ekonomi nasional selama 2008-2009 sebesar 6,3 persen-6,5 persen. Sedangkan pertumbuhan industri manufaktur non migas pada periode sama diproyeksikan diatas pertumbuhan nasional sekitar 7,7 persen. Industri yang mendongkrak pertumbuhan akan berasal dari semen, mineral non metalik dan transportasi.

Pertumbuhan industri tahun 2007 berada dibawah pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 6,3 persen. Tahun 2008 pemerintah menargetkan kenaikan pertumbuhan industri menjadi 7,43 persen.

Direktur Utama PT Tempo Inti Media Tbk, Bambang Harymurti selalu ada peluang bisnis dalam keadaan krisis. Namun, pelaku bisnis perlu melakukan perubahan paradigma jarak dan transportasi. "Saat ini terjadi revolusi telekomunikasi dan transportasi yang membuat persaingan semakin terbuka," ujar Bambang.

Dia mencontohkan PT Dirgantara Indonesia yang terlibat dalam proses pembuatan komponen sayap Airbus Boeing A380. Boeing ingin menjalankan proses produksi 24 jam dan memilih Indonesia yang menerapkan biaya lebih murah selain proses pembuatan di Amerika Serikat.

YULIAWATI

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :