Minyak Tanah dan Elpiji Menghilang di Pasaran Jambi

Rabu, 16 Januari 2008 | 16:00 WIB

TEMPO Interaktif, Jambi:Dalam dua pekan terakhir, minyak tanah dan gas elpiji menghilang dari pasaran di Provinsi Jambi. Akibatnya, masyarakat setempat panik dan sebagian terpaksa beralih menggunakan kayu bakar untuk memasak.

"Saya sekarang terpaksa menggunakan kayu bakar untuk
memasak, karena sudah dicari kemana-mana gas elpiji
maupun minyak tanah tidak ada di jual di pasaran," kata Emi, 36 tahun, salah seorang warga Kelurahan Handiljaya, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, Rabu (16/1).

Berdasarkan pengamatan Tempo, kondisi serupa tidak
hanya dialami Emi, tapi sebagian besar warga
masyarakat setempat. Beberapa pangkalan minyak tanah
di daerah ini mengaku, jika pihaknya hanya mendapat
jatah dua kali, yakni sekitar 10 ribu liter per
bulan, sedangkan biasanya mencapai 15 ribu liter per
bulan.

Hariyansyah, Wakil Wira Penjualan PT Pertamina
(Persero) UPMS Depot Jambi, mengemukakan, saat ini
tidak ada kendala dengan minyak tanah, karena setiap
hari tetap disalurkan sesuai dengan kebutuhan.

Kebutuhan minyak tanah untuk Provinsi Jambi sebanyak
310 kilo liter per hari, minus Kabupaten Kerinci,
karena daerah ini dipasok dari Depot Pertamina
Sumatera Barat.

"Saya tidak tahu kalau minyak tanah langka sekarang,
sedangkan pihak pengawas dari Pemerintah daerah tidak
pernah melaporkan hal itu. Namun, saya akan turun
untuk mengecek kelapangan atas adanya informasi ini",
ujarnya.

Sementara elpiji, menurut Hariyansyah, bukan pihaknya
yang menangani, karena langsung dari Palembang.

Ningsi, 34 tahun, salah seorang agen elpiji di Kota
Jambi, menyebutkan, jika elpiji langka di daerah ini
sejak dua minggu lagi, akibat proses pengisian di
pusat pengisian gas di daerah ini sedang mengalami
kendala.

Di samping itu, mobil pengangkut gas dari Palembang ke
Jambi biasanya tiga unit, kini hanya satu unit,
lainnya sedang mengalami kerusakan. "Itu saja
informasi yang saya terima", katanya.

Akibatnya, elpiji sangat susah ditemukan di pasaran.
Jika pun ada harganya sudah melonjak, biasanya harga
satu tabung elpiji seberat 20 kilogram seharga Rp 52
ribu, kini mencapai Rp 60 ribu lebih.

Hingga saat ini belum diketahui secara jelas kenapa
minyak tanah dan elpiji menghilang di daerah ini. Namun dugaan sementara sebagai akibat para spekulan
memanfaatkan situasi adanya keinginan pemerintah
mengkonversi dari minyak tanah ke gas.

l SYAIPUL BAKHORI

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: