Investor Saham Global Panik
Kamis, 17 Januari 2008 | 03:27 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Indeks saham bursa-bursa utama di dunia berjatuhan dalam perdagangan kemarin akibat kepanikan pelaku pasar terhadap resesi ekonomi di Amerika Serikat.
Para investor menjual sahamnya secara besar-besaran setelah bursa di Wall Street Amerika Serikat ambruk pada Selasa (15/1) dan Citigroup Inc., salah satu bank raksasa di negeri Abang Sam, merugi hampir US$ 10 miliar (Rp 940 triliun) pada kuartal keempat 2007--setara dengan anggaran belanja negara Indonesia--terimbas kredit macet hipotek perumahan (subprime mortgage). “Dengan keterpurukan Citigroup yang signifikan, banyak analis menyebutkan akan ada kabar buruk selanjutnya,” kata Trent Muller, analis ABN Amro Morgan di Sydney. “Tak mengherankan hari ini (kemarin) investor panik menjual saham dan memilih mencairkan dananya,” kata Muller menambahkan.
Kekhawatiran resesi di AS membuat bursa saham di London terpuruk. Indeks FTSE 100 turun 0,79 persen ke posisi 5.978,20, level di bawah 6.000 sejak pertengahan Agustus lalu. Indeks saham DAX 30 Frankfurt Jerman juga tergelincir 0,90 persen ke level 7,498.14.
Bursa-bursa saham di Asia paling tajam kejatuhannya. Indeks Hang Seng Hong Kong ambruk 1.403,14 poin (5,37 persen) ke posisi 24.450,85. Ini merupakan kejatuhan terbesar sejak serangan teroris ke AS pada 11 September 2001. Pasar saham di Jepang juga menderita. Indeks Nikkei anjlok 3,4 persen ke posisi 13.504,51, level terendah sejak Oktober 2005. Bursa-bursa di kawasan Asia lainnya juga jatuh sangat dalam (lihat tabel). “Secara realistik sebenarnya sudah terjadi resesi di Amerika Serikat. Kejatuhan pasar di Asia akan mengikuti AS,” kata David Ng dari Hwang-DBS Asset Management Sdn. di Kuala Lumpur.
Di Tokyo, Perdana Menteri Jepang Yasuo Fukuda memperingatkan kerugian besar yang diderita oleh Citigroup bukan saja bisa mempengaruhi ekonomi AS, tetapi juga ekonomi dunia. “Kami akan menganalisis dan akan mengambil langkah-langkah antisipasi jika diperlukan,” ujarnya Fukuda.
Bursa Efek Indonesia (BEI) ikut terseret kejatuhan bursa saham dunia. Indeks saham BEI turun tajam 137,72 poin (5,04 persen) ke posisi 2.592,31 pada perdagangan kemarin. Berarti sejak Senin lalu hingga kemarin, indeks saham Indonesia investor sudah turun sekitar 7,76 persen. Para investor mulai menarik dananya dari pasar saham karena takut keuntungan perusahaan publik akan menurun. "Investor mulai melihat indikasi resesi di AS," kata Kepala Riset BNI Securities Norico Gaman kepada Tempo di Jakarta kemarin.
Indikasi negatif itu terlihat dari meningkatnya pengangguran di AS akibat belum tuntasnya krisis subprime mortgage dan tingginya inflasi. "Keduanya menyebabkan daya beli masyarakat menurun sehingga mengganggu pertumbuhan ekonomi," papar Norico.
Jika kondisi itu terjadi selama tiga kuartal berturut-turut, menurut Norico, tidak bisa dimungkiri lagi AS telah memasuki resesi. Negara di Asia bisa terpukul karena banyak mengekspor ke negera adi daya tersebut.
Namun, Norico tetap optimistis prospek indeks saham Indonesia tahun ini masih baik. "Kondisi Indonesia tidak bisa disamakan dengan AS karena ekspor ke negara ini kurang dari 10 persen," ujarnya.
AP | AFP | Bloomberg | Sorta Tobing | Padjar Iswara




Komentar Anda :