Kenaikan Harga Baja Ancam Industri Otomotif

Kamis, 17 Januari 2008 | 19:44 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kenaikan harga baja dunia mengancam dunia otomotif. Sebab kenaikan tersebut akan mendorong melonjak harga jual yang berakitab pada penurunan penjualan. "Apabila harga baja dan minyak mentah terus naik, pasti ada koreksi harga dan itu akan menurunkan penjualan," ujar Presiden Direktur PT Indomobil Sukses International Tbk, Gunadi Sindhuwinata, Kamis (17/1).

Harga baja canai panas (hot rolled coil) pada Januari 2008 meningkat sekitar 30 persen dari harga pada 2007. Pada tahun lalu harga baja canai panas sekitar US$ 500-600 per ton. Namun pada 8 Januari lalu, harga baja canai panas menjadi US$ 710 per ton dan Juni mendatang diproyeksikan sebesar US$ 800 per ton.

Menurut Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Bambang Trisulo, penggunaan baja dalam struktur biaya produksi mobil sekitar 30-40 persen. Namun, katanya penyesuaian produsen kendaraan bermotor tak serentak dengan harga baja yang berlaku. "Produsen menyetok pembelian bahan baku enam bulan sebelumnya," katanya.

Sebelum memilih menaikkan harga jual, kata Bambang, produsen akan melakukan efisiensi biaya produksi.

Gunadi mengharapkan pemerintah segera merealisasikan proyek infrastruktur yang telah terhambat tiga tahun. Dengan adanya realisasi proyek itu bisa meningkatkan daya beli masyarakat," kata Gunadi.

Dia mencontohkan, investasi PT Hino Indonesia Manufacturing, salah satu milik Grup Indomobil, meningkatkan produksi menjadi 10.000 dari 8.000 unit karena permintaan naik dari sektor perkebunan dan pertambangan. "Belum ada proyek pemerintah yang bisa menjadi pendorong permintaan," katanya.

Selain faktor pendorong permintaan, dari proyek pemerintah, kebijakan kenaikan bahan bakar minyak industri sangat mempengaruhi pasar otomotif. "Menjelang pemilihan umum biasanya pemerintah tak akan menaikkan harga bahan bakar minyak," ujar Gunadi.

Pada tahun ini, asosiasi kendaraan memproyeksikan pertumbuhan penjualan mobil sebanyak 15 persen atau menjadi 520 ribu unit. Prediksinya ini diambil dari asumsi makro pertumbuhan ekonomi sekitar 6,2-7 persen, suku bunga sekitar delapan persen dan inflasi terkendali sekitar tujuh persen.

YULIAWATI






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: